oleh

“Ela-Ela: Cahaya Iman dari Tanah Kesultanan”

Pada akhirnya, ketika malam 27 Ramadhan tiba dan ribuan cahaya lampu menyala di seluruh penjuru kota, kita diingatkan bahwa tradisi Ela-Ela adalah metafora kehidupan itu sendiri. Bahwa di tengah kegelapan dunia, manusia selalu membutuhkan cahaya—cahaya iman, cahaya kebersamaan, dan cahaya tradisi yang menuntun generasi ke generasi.
Maka selama cahaya Ela-Ela terus dinyalakan oleh masyarakat Ternate, selama itu pula nilai-nilai iman dan budaya akan tetap hidup, menerangi perjalanan sejarah kota ini. Ketika lampu Ela-Ela menyala di malam 27 Ramadhan, yang sebenarnya sedang dijaga bukan hanya sebuah tradisi, melainkan jiwa sebuah peradaban yang telah tumbuh sejak masa Kesultanan Ternate di tanah Maluku Utara.

Baca Juga  Rizal dan Wajah Baru Birokrasi Kota Ternate

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *