Di dalamnya, nilai-nilai Islam bertemu dengan kearifan lokal masyarakat Maluku Utara yang telah diwariskan turun-temurun sejak masa kejayaan Kesultanan Ternate. Dalam konteks ini, Ela-Ela bukan hanya sebuah perayaan estetika cahaya, tetapi juga ekspresi spiritual kolektif yang menegaskan identitas masyarakat Ternate sebagai komunitas yang religius sekaligus berakar kuat pada tradisi adatnya.
Secara simbolik, cahaya dalam Ela-Ela mengingatkan kita pada pesan Al-Qur’an tentang cahaya ilahi yang menerangi kehidupan manusia. Dalam tradisi masyarakat Ternate, menyalakan lampu pada malam 27 Ramadhan merupakan ungkapan kegembiraan dan penghormatan terhadap kemungkinan turunnya Lailatul Qadar—malam yang disebut lebih baik daripada seribu bulan. Maka, ketika lampu-lampu dinyalakan serentak di berbagai sudut kota, suasana religius itu terasa begitu kuat: anak-anak berlarian di antara cahaya, orang tua berkumpul di teras rumah, dan masyarakat merayakan Ramadhan dengan penuh syukur.






Komentar