oleh

SEMIOTIKA “NEBENG HAJI”

–000–

Dahnil menggunakan semiotika untuk menghindari “beban sosial” gelar Haji yang sering kali menuntut perilaku yang terlampau kaku dan konservatif.

Ia memilih tanda yang memberinya ruang untuk tetap kritis, jenaka, dan tetap profesional sebagai Wakil Menteri.

Dalam masyarakat Indonesia, gelar “Haji” telah bergeser dari sekadar penanda ibadah menjadi sebuah Mitos (dalam istilah Barthesian).

Haji adalah simbol kesalehan sosial, kemapanan, dan otoritas moral.
Dengan memosisikan diri atau menerima sebutan “Neben Haji”, Dahnil sedang melakukan desakralisasi tanda.

Ia tidak ingin terjebak dalam beban semiotik gelar Haji yang kaku dan sering kali bersifat performatif di panggung politik.

Baca Juga  In Memoriam: Jenderal Try Sutrisno KESETIAAN DALAM SENYAP

Ini adalah upaya untuk tetap terlihat religius namun tetap membumi dan “cair” dalam birokrasi pemerintahan.

Secara semiotik, “Neben” juga bisa diartikan sebagai pengakuan akan posisi.

Sebagai Wamen, ia adalah “orang kedua” di kementeriannya. Penyematan kata “Neben” pada gelar haji seolah-olah menjadi metafora dari posisinya di struktur kekuasaan.

Sebavai pendukung yang krusial, pendamping yang memberi warna, namun tetap dalam koridor aturan (baik aturan agama maupun aturan negara).

–000-;

Akhirnya secara semiotik, “Nebeng Haji” cetusan Dahnil Anzar Simanjuntak adalah sebuah representasi dari negosiasi identitas.

Ia mencoba mengonstruksi sebuah realitas di mana privilese jabatan dibungkus dengan bahasa yang santai dan akrab.

Baca Juga  Mengapa KPK tidak segera menangkap Bupati Kabupaten Bandung?

Pertemuan antara sakralitas ibadah haji dengan profanitas istilah “nebeng” menciptakan sebuah makna baru tentang bagaimana kekuasaan di Indonesia beroperasi.

Ia cair, penuh peluang, dan seringkali melompati batas-batas prosedural melalui pintu-pintu “keberuntungan” yang disebut sebagai nebeng.

“Neben Haji” dalam tinjauan semiotika adalah sebuah permainan tanda (sign play) yang cerdas.—Dahnil tidak sekadar menggunakan kata, ia sedang menegosiasikan identitasnya di hadapan publik.

Ia menolak menjadi sekadar “Haji” yang terjebak mitos kesalehan formal, dan memilih menjadi subjek yang dinamis—seorang pejabat negara yang tetap membawa nilai spiritualitasnya dengan cara yang sedikit eksentrik namun penuh makn

Baca Juga  Pembicaraan Deadlock, Amerika Siap-Siap Serang Iran Dengan Kekuatan Terbesarnya

Signifikasi “Neben”: Dengan menambahkan kata Neben, Dahnil melakukan de-mitologisasi. Ia merusak kemapanan makna “Haji” yang kaku.

Secara semiotik, ini adalah bentuk ‘parody of signs’. Dahnil “mencuri” keagungan gelar tersebut dan membawanya ke ranah yang lebih santai (profan).

Ini menunjukkan bahwa identitas keagamaan tidak harus selalu tampil dalam balutan formalitas yang membosankan, melainkan bisa tampil dengan sentuhan intelektualitas Barat (istilah Jerman).

Munculnya persepsi bahwa ini adalah “Haji yang berbeda”. Bukan haji konvensional, melainkan haji yang intelek, humoris, dan tidak haus validasi gelar formal. (***)

—-

Pejaten Barat, 4 Februari 2026
Pukul : 12.10

M.Guntur Alting

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed