oleh

Khairun Berduka di Negeri Kepulauan: Ketika Ilmu Berpulang, Tapi Tak Pernah Mati

Namun, sebelum luka itu sempat mengering, kabar duka kembali datang. Kandidat Doktor Muksin N. Bailusy, S.E., M.Si., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, berpulang. Seorang pemimpin yang memimpin dengan hati, seorang akademisi yang tak hanya mengelola fakultas, tapi menanamkan makna. Ia sedang menulis arah baru bagi universitas kepulauan, membangun gagasan tentang budaya akademik yang tumbuh dari denyut pulau-pulau, dari realitas ekonomi yang tak selalu ramah, dari semangat untuk menjadikan ilmu sebagai cahaya di tengah keterbatasan.

Kepergiannya seperti kalimat yang terputus di tengah paragraf penting. Paragraf yang sedang menarasikan 69 pulau berpenghuni yang belum sepenuhnya hadir dalam peta ilmu pengetahuan. Ia sedang menulis visi besar tentang universitas kepulauan di Timur Indonesia, namun pena itu terjatuh sebelum titik akhir dituliskan.

Baca Juga  Nuzulul Quran: Algoritma Iqra dalam Menangkal Disrupsi Post-Truth dengan Epistimologi Wahyu.

Dalam perspektif agama, kematian bukan akhir, melainkan perpindahan alam. Ia adalah fase dari evolusi ruh, dari dunia menuju alam keabadian. Allah berfirman dalam QS. Ali ‘Imran: 185, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” Ini bukan ancaman, tapi pengingat bahwa hidup adalah pinjaman waktu. Kita semua berdiri dalam antrean yang sama, antrean pulang yang tak mengenal gelar, jabatan, atau reputasi.

Ukuran keberhasilan hidup, dalam pandangan agama, bukan panjang usia, tapi panjang manfaat. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Dalam ukuran ini, dosen bukan sekadar pengajar, tapi penjaga peradaban. Ia adalah penanam nilai, pembentuk nalar, dan penjaga nurani intelektual.

Baca Juga  Prabowo-Anies Dalam "Negative Correlation"

Ketika seorang dosen wafat, yang hilang bukan hanya satu nama, tapi juga jam-jam kuliah yang tak sempat disampaikan, riset yang belum selesai, mahasiswa yang belum dibimbing, dan nilai-nilai yang belum diwariskan. Maka, wafatnya Dr. Wildan dan Dr. Muksin bukan hanya kehilangan, tapi juga peringatan.

Yang paling mengguncang adalah kenyataan bahwa keduanya wafat di usia produktif, saat universitas sedang berbenah, saat regenerasi sedang dirancang. Di sinilah kita belajar bahwa produktif menurut manusia belum tentu panjang menurut takdir. Allah tidak menjanjikan usia panjang, tapi menjanjikan keadilan waktu. Setiap orang diberi cukup waktu untuk menunaikan perannya. Dan ketika peran itu selesai, panggilan pulang datang, tanpa kompromi dengan rencana manusia.

Baca Juga  LONCENG KEMATIAN DI LANGIT TEHERAN

Ini bukan hukuman. Bukan pula kebetulan. Ini adalah pesan sunyi bahwa universitas tidak boleh bergantung pada individu. Regenerasi bukan pilihan, tapi kewajiban moral. Ilmu harus diwariskan, bukan disimpan hingga ajal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *