oleh

Esai |Jejak Batin : MEMBASUH JIWA ANTARA GAMALAMA DAN LIMAU DUKO

Di jalanan yang menanjak dan menurun, orang-orang berjalan dengan lebih tenang. Kebisingan pasar yang biasanya riuh mendadak menjadi lebih santun, seolah-olah seluruh kota sedang berusaha menahan napas agar tidak merusak kesucian hari pertama.

–000–

Keheningan Tidore: Sebuah Kedamaian yang Purba

Menyeberang ke Tidore, suasana batin yang dirasakan berbeda lagi.

Baca Juga  Dr. H. Rizal Marsaoly, Potret Sukses Kader Pemimpin di Kota Ternate

Tidore, dengan ritme hidupnya yang lebih lambat dan bersahaja, menawarkan ketenangan yang lebih purba.

Di hari pertama puasa, batin warga Tidore seakan menyatu dengan ketenangan laut yang memisahkan mereka dari hiruk-pikuk perdagangan Ternate.

Bagi warga Tidore, hari pertama adalah momen “pulang”. Banyak orang yang bekerja di Ternate akan memilih untuk merasakan syahdunya hari pertama di tanah kelahiran mereka.

Baca Juga  MENAKAR KOMPAS BARU — Dialektika Transformasi IAIN di Bawah Kendali Dr. Adnan Mahmud, MA

Kesadaran batin di sini lebih bersifat komunal. Shalat berjamaah di masjid-masjid kelurahan bukan sekadar ritual, melainkan cara batin untuk saling menguatkan bahwa perjalanan sebulan ke depan akan ditempuh bersama.

Di bawah bayang-bayang “Limau Doku,”– rasa haus dan lapar di hari pertama diterima dengan kerelaan yang dalam, sebuah bentuk kepasrahan yang telah diwariskan turun-temurun dari zaman kesultanan.

Baca Juga  Siapa Cawapres Prabowo 2029?

–000-

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *