HT sendiri kabarnya dalam keterangannya, mengakui pernah berkomunikasi dengan seseorang berinisial AG, yang disebut sebagai donatur dari Tidore. Namun, ia membantah keras adanya keterlibatan Wali Kota dan Sekda dalam percakapan tersebut. “Tidak ada nama mereka dalam rekaman. Ini hanya permainan opini untuk menjatuhkan saya dan menciptakan kegaduhan,” ujar HT.
“Kabarnya dia tidak menyeret pak wali dan pak Sekda, nama dua pejabat tinggi itu sengaja diplintir”sebut dia.
Skandal ini kini menjadi perhatian publik dan menimbulkan pertanyaan besar tentang integritas proses seleksi jabatan di lingkungan Pemkot Ternate. Jika benar ada upaya sistematis untuk menjatuhkan lawan politik dengan memanipulasi opini publik dan mencatut nama pejabat tinggi, maka ini bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan ancaman serius terhadap demokrasi lokal.
Terakhir sumber ini menutup pernyataannya dengan menggarisbawahi bahwa pengungkapan kasus makelar proyek sangat ia dukung asalkan valid dan jangan sampai kasus dikonstruksikan sebagai alat merebut kekuasaan.
“Itu yang tidak boleh sehingga mengapa dugaan konspirasi ini kami ungkap”pungkasnya.
Sampai berita ini naik tayang, selain JA dan HT, Walikota dan Sekda belum memberikan tanggapan klarifikasi terkait isu yang menyeret mereka.
Masyarakat Ternate kini menanti langkah tegas dari aparat penegak hukum dan lembaga pengawas untuk mengusut tuntas kasus ini. Transparansi dan akuntabilitas harus ditegakkan, agar institusi pemerintahan tidak menjadi korban permainan politik kotor segelintir elite yang haus kekuasaan.***













Komentar