oleh

Kepemimpinan Kapitalis: Jalan Trans Kieraha dan Oligarki Pembangunan

Saatnya Mengoreksi Arah Pembangunan

Maluku Utara membutuhkan pemimpin yang visioner, bukan yang transaksional. Kita butuh pemimpin yang membangun dari bawah, bukan dari ruang rapat para pemilik modal. Kita butuh gaya kepemimpinan yang partisipatif, bukan yang otoriter dan elitis. Kita butuh pembangunan yang berkeadilan, bukan pembangunan yang memperdalam ketimpangan.

Baca Juga  Nuzulul Quran: Algoritma Iqra dalam Menangkal Disrupsi Post-Truth dengan Epistimologi Wahyu.

Gubernur Sherly Tjoanda harus menjawab pertanyaan mendasar: untuk siapa jalan Trans Kie Raha dibangun? Untuk rakyat atau untuk korporasi? Jika jawabannya adalah untuk rakyat, maka libatkan rakyat dalam setiap prosesnya. Jika jawabannya adalah untuk korporasi, maka berhentilah menjual retorika pembangunan.

Kita tidak bisa membiarkan gaya kepemimpinan kapitalis terus menggerogoti semangat demokrasi dan keadilan sosial. Maluku Utara bukan ladang eksploitasi, tapi rumah bersama yang harus dibangun dengan cinta, keadilan, dan keberpihakan pada rakyat.

Baca Juga  Amerika Makin Terkunci

Untuk siapa hasil tambang yang selama ini disedot dari perut bumi Halmahera dan pulau lainny?

Berhentilah mengecoh rakyat atas nama pembangunan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *