oleh

Dramaturgi Manajemen: Antara Panggung Kinerja dan Realitas Kerja

Kita kerap menyaksikan layanan diresmikan secara meriah, lalu beberapa minggu kemudian warga masih menghadapi antrean panjang, sistem bermasalah, dan prosedur yang sama rumitnya. Aplikasi layanan diluncurkan dan dipromosikan, tetapi di lapangan masyarakat tetap diminta datang langsung karena sistem tidak siap.
Birokrasi tampak sibuk di ruang publik, tetapi lebih sering bekerja di depan kamera daripada di meja pelayanan. Yang dipercepat bukan penyelesaian masalah warga, melainkan produksi citra dan popularitas. Dalam logika media sosial, kerja sunyi yang memperbaiki sistem tersisih oleh aktivitas yang mudah dipotret. Orientasi pun bergeser: dari melayani warga menjadi melayani algoritma. Negara terlihat bekerja, sementara publik terus menunggu.
Di titik inilah lahir kinerja semu, kinerja yang ramai di linimasa, tetapi hampa di lapangan. Laporan penuh foto kegiatan, tetapi keluhan publik berulang dari tahun ke tahun. Seremoni berderet, tetapi antrean tetap panjang. Koordinasi diumumkan, tetapi masalah yang sama terus diwariskan. Yang lebih mengkhawatirkan, kinerja semu ini tidak lagi dianggap penyimpangan, melainkan kebiasaan. Ramai di panggung depan, mandek di belakang panggung. Yang bergerak cepat adalah narasi, bukan pelayanan. Ketika ilusi kinerja dirawat bersama, birokrasi bukan hanya gagal melayani. ia perlahan kehilangan keberanian untuk jujur pada realitas kerjanya sendiri.

Baca Juga  PELUIT YANG MENGIRIS HARAPAN DI GELORA BANDUNG LAUTAN API

Menjembatani Dua Panggung

Masalahnya bukan pada keberadaan panggung depan. Organisasi tetap membutuhkan komunikasi publik dan simbol akuntabilitas. Persoalannya adalah ketika panggung depan memutus hubungan dengan panggung belakang. Tantangan manajemen publik hari ini adalah menjembatani dua panggung tersebut.

Menjembatani dua panggung berarti memastikan bahwa indikator kinerja lahir dari realitas kerja, bukan memaksanya tunduk pada format ideal. Laporan harus mencerminkan kondisi lapangan, bukan menutupinya. Kepemimpinan dituntut berani membawa suara panggung belakang ke ruang pengambilan keputusan, meski tidak selalu nyaman secara politis.

Baca Juga  Rizal dan Wajah Baru Birokrasi Kota Ternate

Mengurangi Dramaturgi, Menguatkan Kerja Nyata
Mengurangi dramaturgi bukan berarti menolak citra, melainkan menempatkan citra secara proporsional. Panggung depan seharusnya menjadi refleksi kerja nyata, bukan penggantinya. Ini menuntut keberanian kebijakan: menyederhanakan indikator, membuka ruang aman untuk kejujuran administratif, dan menghargai proses, bukan sekadar hasil simbolik.
Tanpa langkah ini, birokrasi akan terus memproduksi kinerja yang tampak meyakinkan, tetapi rapuh secara substantif.

Baca Juga  PELUIT YANG MENGIRIS HARAPAN DI GELORA BANDUNG LAUTAN API

Penutup: Reformasi yang Berhenti Pura-Pura
Reformasi birokrasi tidak akan bergerak maju selama ia berhenti pada kepura-puraan kinerja. Reformasi yang hanya sibuk mempercantik panggung tanpa membenahi dapur kerja hanyalah reformasi kosmetik, terlihat indah di laporan namun hampa di pelayanan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed