oleh

Dramaturgi Manajemen: Antara Panggung Kinerja dan Realitas Kerja

Fenomena tersebut dalam teori organisasi dikenal sebagai decoupling, keterpisahan antara struktur formal yang ditampilkan dengan praktik kerja yang sesungguhnya dijalankan. Meyer dan Rowan (1977) menjelaskan bahwa organisasi modern sering mengadopsi aturan, indikator, dan prosedur bukan demi efektivitas, melainkan demi legitimasi institusional.

Dalam birokrasi publik, decoupling menjelma menjadi kebiasaan. Program dijalankan agar bisa dilaporkan, bukan karena menyelesaikan masalah. Inovasi diluncurkan agar terlihat adaptif, bukan karena berdampak. Aparatur bekerja dalam dua dunia: dunia laporan yang rapi dan dunia kerja nyata yang penuh kompromi. Ironisnya, semakin kuat tekanan evaluasi seperti indeks kinerja, reformasi birokrasi, dan akreditasi justru semakin besar kecenderungan decoupling. Kepatuhan simbolik menjadi strategi bertahan hidup organisasi, sementara pembaruan substantif justru terpinggirkan.

Baca Juga  Esai |Jejak Batin : MEMBASUH JIWA ANTARA GAMALAMA DAN LIMAU DUKO

Pencitraan dan Matinya Pembelajaran Organisasi
Ketika pencitraan menjadi orientasi utama, organisasi kehilangan kemampuan paling penting: belajar dari kegagalan. Dalam budaya yang obsesif pada citra, kesalahan tidak lagi diperlakukan sebagai bahan refleksi, melainkan sebagai ancaman reputasi. Kritik dibungkam, masalah disamarkan, dan laporan “dipoles” agar tetap terlihat baik.

Argyris dan Schön (1978) menegaskan bahwa pembelajaran organisasi hanya terjadi jika organisasi berani mengakui kesalahan dan merefleksikan praktiknya. Namun dalam birokrasi yang terjebak pencitraan, yang dipelajari justru cara terlihat berhasil, bukan cara menjadi lebih baik. Di titik ini, pembelajaran organisasi mati secara perlahan dan digantikan oleh kepiawaian mengelola kesan.

Baca Juga  Dr. H. Rizal Marsaoly, Potret Sukses Kader Pemimpin di Kota Ternate

Media Sosial dan Normalisasi Kinerja Semu
Media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan mesin ilusi kinerja. Unggahan kunjungan pimpinan, seremoni peresmian, rapat koordinasi, dan penandatanganan kerja sama diperlakukan seolah-olah itu sendiri adalah prestasi. Aktivitas disulap menjadi capaian. Kerja dipersempit menjadi dokumentasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *