Kritik Muammil bukan sekadar keluhan akademik. Ia menawarkan sebuah visi: masa depan Maluku Utara yang tidak lagi bergantung pada tambang, tetapi berdiri di atas fondasi ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan. Visi ini menuntut keberanian politik, inovasi kebijakan, dan partisipasi publik yang luas.
“Kalau hanya berharap pada royalti tambang, Sherly juga belum ada apa-apanya. Jangan berbangga seolah lebih hebat dari Gubernur sebelumnya,” tukasnya, menutup pernyataan dengan nada tajam namun penuh harapan.
Di tengah tantangan perubahan iklim, krisis lingkungan, dan ketimpangan sosial, suara seperti Muammil Sunan menjadi penting untuk didengar. Ia mengingatkan kita bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal angka, tetapi tentang warisan yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang.
“Demikian mindset-nya,” pungkas Muammil, sebuah ajakan untuk berpikir ulang tentang arah pembangunan daerah, sebelum semuanya terlambat.














Komentar