Greenland kaya minyak dan mineral strategis. Trump berdalih pulau terbesar di dunia itu penting bagi keamanan AS menghadapi kapal perang Cina dan Rusia yang bersiliweran di sana. Kendati retorika anti-rezim Iran melunak dan demonstrasi mereda, Trump tak mengabaikan kemungkinan menyerang Iran. Pada 28 Desember demonstrasi besar pecah di Iran akibat melambungnya inflasi yang menggerus daya beli masyarakat. Teheran mengakui sekitar 3.000 orang tewas, termasuk lebih dari seratus aparat keakaman.
Ambruknya ekonomi Iran tak bisa dilepaskan dari sanksi menyeluruh AS sejak periode pertama pemerintahan Trump (1917-2021) setelah mundur secara sepihak dari perjanjian nuklir Iran. Ekonomi Iran kian amburadul menyusul pemberlakuan secara otomatis sanksi PBB terkait pembatasan kerja sama Iran dengan badan pengawas nuklir PBB (IAEA). Mundurnya Trump tak bisa dilepaskan dari obsesi AS meruntuhkan rezim mullah sejak berdirinya Republik Islam pada 1979, selain bujukan PM Israel Benjamin Netanyahu. Perjanjian nuklir tahun 2015 itu membatasi program nuklir Iran yang diawasi ketat oleh IAEA dengan imbalan Iran bebas mengekspor minyaknya ke pasar global.
Tapi Trump dan Netanyahu ingin perjanjian itu mencakup larangan Iran membuat rudal serta mundur dari campur tangannya dalam urusan internal negara-negara Arab dengan membangun poros perlawanan di sana, bersekutu dengan rezim Bashar al-Assad di Suriah. Ironisnya, pemberlakuan kembali sanksi PBB justru atas inisiatif Inggris, Perancis, dan Jerman, yang bertujuan mempengaruhi sikap Trump terkait politik ekspansif rezim Vladimir Putin yang dipandang mengancam keamanan Eropa. Toh, Trump hendak menghentikan perang dengan memberi konsesi teritori Ukraina kepada Rusia.
Regime Change di Iran
Mundurnya Trump dari kesepakatan pada 2018 menargetkan perubahan rezim di Iran. Sebenarnya Teheran tak sedang membangun bom nuklir sebagaimana tuduhan Netanyahu-Trump karena hanya akan menciptakan krisis di kawasan. Alasan mereka yang utama adalah menjaga supremasi militer Israel di kawasan yang sedang ditandingi Iran. Lebih jauh, proksi-proksi Iran mengganggu hegemoni AS dan mengancam keamanan Israel. Segera setelah sanksi dijatuhkan, demonstrasi besar meledak di Iran. Namun, rezim mullah bertahan. Pasalnya, Cina tetap membeli lebih dari 80 persen produksi minyak Iran; perdagangan dengan Rusia, Turki, India, Irak, dan UEA tetap berjalan.
Walakin, pada 2020 Trump berhasil mendesak UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko menormalisasi hubungan dengan Israel. Sementara diam-diam Saudi berunding dengan Israel untuk tujuan sama. Serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 mengubah segalanya. Hamas menerjang sistem pertahanan Israel, yang belum pernah dilakukan negara Arab manapun, meruntuhkan reputasi militer Israel sebagai yang terhebat di Timteng. Proksi Iran pun, khususnya Hezbollah di Lebanon dan Houthi di Yaman, ikut nimbrung mengeroyok Israel untuk membantu Hamas. Genosida Israel di Gaza menyebabkan Saudi mundur dari perundingan dan seluruh negara Arab menjauhinya.
Pada saat bersamaan, makin banyak negara Eropa mengakui negara Palestina. Artinya, mereka mendukung two-state solution yang hendak dikuburkan Trump dan Netanyahu. Padahal, dua pekan sebelum peristiwa 7 Oktober, ketika berpidato di sidang Majelis Umum PBB, Netanyahu menunjukkan peta Israel tanpa Palestina. Kini, Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat penangkapan terhadapnya.
Kembalinya Trump ke Gedung Putih menghidupkan kembali gagasan regime change di Iran. Momentumnya tercipta setelah Hezbollah babak belur, Hamas dikerdilkan, dan rezim Bashar al-Assad runtuh, dan demonstrasi di Iran. Pada Juni, Israel dibantu AS melancarkan serangan besar ke Iran, menewaskan 1.100 warga Iran, termasuk para petinggi militer dan pakar nuklirnya. Walakin, upaya membunuh pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei gagal total. Di pihak lain, Israel kian terisolasi dan perang di Gaza tidak mencapai tujuannya.
Penentangan Rusia-Cina
Karier politik Netanyahu hanya bisa selamat bila cita-cita lama Israel meruntuhkan rezim mullah tercapai. Maka, ketika mengunjungi Trump di resor Mar-a-Lago, Florida, 29 Desember – saat demonstrasi sudah meledak di Iran — keduanya sepakat akan menyerang Iran kembali bila Teheran menolak menghentikan program nuklir dan rudalnya tanpa syarat. Ancaman ini harus dipandang serius karena Trump menjalankan realisme politik yang mengandalkan militer untuk menundukkan lawan. Ia berasumsi Cina dan Rusia tak akan ikut campur karena sibuk menghadapi Taiwan dan Ukraina.
Tapi asumsi Trump sangat mungkin keliru. Latihan militer BRICS+ harus dilihat sebagai pesan kepada Trump dan Netanyahu bahwa Rusia dan Cina tak akan berdiam diri bila rezim Iran berpotensi runtuh. Untuk saat ini, setidaknya asesmen Beijing mengungkapkan posisi pemerintahan Iran masih aman. Demonstrasi memang berlangsung di berbagai kota, tapi skalanya tak sebesar yang diberitakan. Tentu saja Cina dan Rusia tak akan mengirim pasukan untuk membantu Iran.Mereka akan membantu dengan cara mereka sendiri. Yang pasti, mereka akan memveto resolusi DK PBB yang mengancam Iran. Ini akan mempengaruhi Kongres yang kini sedang mendesak Trump untuk meminta persetujuan Kongres bila akan mendeklarasikan perang.











Komentar