Lebih jauh, Muslim Arbi mengamati bahwa sejak isu Perpol 10/2025 mencuat, citra Presiden Prabowo di media sosial mengalami penurunan signifikan. Narasi yang berkembang, kata dia, bukan lagi soal konsolidasi pemerintahan baru, melainkan tudingan bahwa Prabowo justru melanjutkan bahkan memperparah praktik kekuasaan lama.
“Di media sosial, Prabowo mulai dipersepsikan bukan sebagai pemimpin perubahan, tapi sebagai kelanjutan dari rezim sebelumnya. Ini sangat berbahaya,” ujarnya.
Menurut Muslim, kondisi tersebut justru menguntungkan kelompok politik di sekitar Presiden ke-7 Joko Widodo. Ia menyebut, setiap polemik yang melemahkan posisi Prabowo akan memperkuat daya tawar politik “Geng Jokowi” di dalam dan di luar pemerintahan.
“Mereka senang. Karena semakin Prabowo diserang publik, semakin tergantung dia pada jaringan lama,” kata Muslim.
Dalam analisisnya, Muslim Arbi menyebut manuver ini sebagai permainan politik tingkat tinggi yang sangat canggih. Ia menduga, jebakan tersebut dirancang agar Prabowo tampak sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas kebijakan kontroversial, sementara aktor-aktor lama tetap berada di balik layar.
“Ini bukan jebakan kasar. Ini jebakan konstitusional, jebakan opini publik, jebakan sejarah. Kalau Prabowo tidak sadar, dampaknya bisa sangat fatal,” ujarnya.
Ia bahkan memperingatkan bahwa jika konflik ini terus membesar, bukan tidak mungkin stabilitas politik pemerintahan Prabowo akan terganggu sejak awal masa jabatan.







Komentar