Sebuah rentang usia yang mengartikan jam terbang hidup yang cukup dengan serangkaian pengalaman jatuh bangun yang padat.
Segala yang terjadi padanya dalam hidup tidak semua berisi catatan manis, bahkan lebih banyak berisi ujian berat. Namun,Yenny masih bisa berdiri tegak dan telah menemukan pelabuhan yang mendamaikan hatinya.
Ia melihat segala cobaan dan ujian yang pernah menerpanya sebagai pola hidup yang sangat indah yang diberikan Tuhan untuk mematangkan dirinya. Ia justru mensyukuri segala peristiwa yang ia lakoni—manis atau pahit—kesemuanya itu telah membentuk mosaik hidup yang penuh makna.
Garis besar buku ini mengisahkan perjalanan hidup Yenny Rachman, sosok yang dikenal sebagai salah satu “The Big Five” perfilman Indonesia, saat ia memasuki usia setengah abad.
Pertama, Perjalanan Karir dan Kehidupan. Narasi dalam buku ini tidak hanya menyoroti kesuksesannya sebagai bintang film legendaris, tetapi juga sisi manusiawi di balik layar. Alberthiene Endah memotret pengalaman jatuh bangun yang padat dalam hidup Yenny.
Kedua, Transformasi Spiritual. Fokus utama buku ini, sesuai judulnya, adalah tentang perjalanan batin Yenny Rachman dalam menemukan ketenangan hidup melalui pendekatan spiritual (Kutemukan Ridha-Nya).
Ketiga, Nilai Kehidupan. Penulis menyajikan biografi ini sebagai sebuah “jurus manusiawi” menuju hidup yang lebih tentram, yang dapat dijadikan inspirasi bagi pembaca dalam menghadapi realitas kehidupan yang tidak selalu mulus.
Secara keseluruhan, buku ini menekankan bagaimana gaya penulisan Alberthiene Endah mampu menggali sisi melankolis sekaligus kekuatan dari karakter Yenny Rachman, menjadikannya lebih dari sekadar memoar selebritas, tetapi juga refleksi kehidupan spiritual.
***
Buku : Lasykar Pelangi (Andrea Hirata)
Sudah lama novel ini dikenal luas, bahkan telah di filmkan. Tapi saya baru memilkinya di pertengahan 2025. Laskar Pelangi adalah novel fenomenal karya Andrea Hirata yang pertama kali terbit pada tahun 2005.
Novel ini bukan sekadar cerita, melainkan sebuah kode tentang optimisme, persahabatan, dan perjuangan dalam menghadapi keterbatasan.
Berlatar di sebuah desa terpencil di Belitung, Sumatra, kisah ini membawa kita menyelami kehidupan sekelompok anak-anak sekolah dasar dari keluarga miskin yang memiliki semangat belajar luar biasa.
Novel ini berpusat pada sepuluh anak yang bersekolah di SD Muhammadiyah Gantong, sebuah sekolah tua yang nyaris roboh. Mereka adalah Ikal (narator cerita), Lintang (si jenius matematis), Sahara (gadis satu-satunya yang keras kepala), Mahar (seniman eksentrik), dan teman-teman lainnya yang memiliki karakter unik dan beragam.
Dipimpin oleh dua guru yang berdedikasi, Ibu Muslimah dan Pak Harfan, para “Laskar Pelangi” ini berjuang melawan kemiskinan, keterbatasan fasilitas, dan pandangan skeptis masyarakat.
Andrea Hirata berhasil merangkai kisah ini dengan bahasa yang puitis, lugas, namun penuh humor dan kehangatan. Pembaca akan diajak tertawa, tersentuh, dan terinspirasi oleh setiap peristiwa yang dialami para tokoh.
Kisah Lintang, anak miskin yang harus menempuh puluhan kilometer setiap hari untuk sampai ke sekolah, atau kegigihan Ibu Muslimah dalam mempertahankan sekolahnya, adalah beberapa contoh betapa kuatnya pesan yang disampaikan novel ini.
Novel ini tidak hanya berbicara tentang pendidikan, tetapi juga tentang mimpi, harapan, keadilan, dan kekuatan persahabatan yang mampu mengatasi segala rintangan.
Salah satu kekuatan terbesar Laskar Pelangi adalah kemampuannya untuk menyentuh emosi pembaca dan meninggalkan kesan mendalam.
Hirata menggambarkan realitas kemiskinan dan keterbatasan dengan sangat jujur, namun selalu diselingi dengan harapan dan tawa. Ini adalah kisah tentang bagaimana semangat dan ketulusan bisa menjadi modal paling berharga dalam meraih cita-cita, bahkan ketika segalanya tampak mustahil.
Laskar Pelangi bukan hanya sekadar novel best seller, tetapi telah menjadi fenomena budaya yang menginspirasi banyak orang, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara. Kisahnya telah diadaptasi menjadi film layar lebar yang sukses besar, musikal, hingga serial televisi.
Popularitasnya membuktikan bahwa pesan universal tentang perjuangan dan optimisme dalam novel ini relevan bagi siapa saja.
Buku : Negeri 5 Menara (Ahmad Fuadi)
Ini adalah novel karya Ahmad Fuadi, diterbitkan oleh Gramedia tahun 2009. Novel ini bercerita tentang kehidupan Alif Fikri, seorang santri asal Maninjau, Sumatera Barat yang bersekolah di Pondok Madani (PM) Ponorogo, Jawa Timur, bersama lima teman-teman santrinya yang disebut “Sahibul Menara”.
Lima anak santri yang menuntut ilmu di pesantern Gontor yang memiliki kebiasaan unik, yaitu setiap menjelang azan maghrib mereka berkumpul di bawah menara masjid sambil memandang ke awan.
Mereka memandang awan sambil membayangkan impian mereka; seperti Alif membayangkan awan bentuknya benua Amerika, sebuah negara yang ingin dia kunjungi setelah lulus nanti.
Sedangkan keempat temannya menggambarkan awan seperti negara Arab Saudi , Mesir, dan negara di benua Eropa.[2]Cerita novel ini diteruskan dengan novel Ranah 3 Warna (2011) dan Rantau 1 Muara (2013).
Novel ini telah diadaptasi menjadi sebuah film pada tahun 2013 dan sebuah serial web pada tahun 2019
Kelebihan dari novel ini banyak pelajaran penting tentang kehidupan yang dipaparkan, bahasanya pun mengalir namun tetap lugas khas bahasa wartawan sehingga mudah dipahami.
Pengarang juga menyelipkan candaan khas pondok, lirik lagu, dan syair – syair Islam yang mengobarkan semangat.
Adapun kekurangan novel ini terlihat dari klimaks cerita yang kurang menonjol, sehingga pembaca merasa dinamika cerita sedikit datar. Setelah selesai membaca, pembaca akan merasa cerita belum selesai setuntas-tuntasnya.
Hal ini mungkin disebabkan karena penulis mendasarkan ceritanya pada kisah nyata dan tidak ingin melebih-lebihkannya. Namun hal itu tidak menjadi hambatan yang berarti untuk melahap habis isi novel ini.
***
Demikian beberapa buku fiksi (Novel) dan juga biografi yang saya baca di tahun 2025. Tentu masih banyak banyak buku lain, tapi tudak mungkin saya tuangkan semuanya di sini, Resiko melakukan seleksi adalah kita harus tega untuk memilih buku-buku tertentu saja.
Saya menyambut tahun 2026 dengan penuh harapan agar semakin banyak buku bagus fiksi maupun non-fiksi yang memperkaya pengetahuan dan pemgalaman. Semoga.
—
Lembah Cinere, 30 Desemeber 2025
Pukul : 03,00











Komentar