Oleh : M. Guntur Alting
(Selasa, 30 Des -2025)
—-
TULISAN ini bisa disebut kaleidoskop. Hanya saja bukan ulasan olahraga atau catatan peristiwa seperti yang kita saksikan di televisi. Tapi rangkuman atau kilas balik buku-buku yang saya baca sepanjang tahun 2025.
Satu kebiasaan bagi orang yang mengaku sebagai “manusia pembelajar”. Ia tak lupa “mereview” bacaan-bacaannya di penghujung tahun.
Dan sering kali disajikan dengan beragam genre dan topik (fiksi, non-fiksi) untuk merefleksikan pengalaman, emosi, dan wawasan yang diperoleh dari membaca.
Seperti alat kaleidoskop yang memantulkan pola warna-warni indah dari objek kecil, menjadi kumpulan cerita dan pengalaman visual dari buku-buku yang telah dibaca, sering dibagikan di media sosial.
***
Di era digital yang hampir seluruhnya bergerak cepat, ada sebuah kebahagiaan yang tetap bertahan: menyentuh halaman buku, mencium aroma kertas, dan tenggelam dalam dunia yang tercipta dari kata-kata.
Bagi sebagian orang, buku bukan sekadar benda atau hiburan, melainkan rumah tempat mereka pulang. Mereka dikenal sebagai “bibliophile”, yaitu orang-orang yang mencintai buku dengan cara yang mendalam, sering kali hingga menjadikannya bagian dari identitas diri.
“Bibliophile” bukan hanya pembaca biasa. Mereka menikmati sensasi memegang buku fisik, mengoleksinya, hingga merasa ada yang kurang jika tidak memiliki tumpukan bacaan baru.
Kebahagiaan mereka bukan hanya dari isi buku, tetapi dari keberadaan buku itu sendiri sebagai simbol ketenangan, keindahan, dan perjalanan.
Berikut saya akan mengulas beberapa buku karya fiksi yang saya baca sepanjang 2025 ini.
Saya mendiklare genre fiksi, karena untuk non-fiksi khususnya buku akademik, bagi saya sudah hal biasa bagi seorang pengajar.
Maka bagi seorang pengajar meluangkan waktu membaca buku bergenre fiksi seperti novel atau biografi semacam sebuah stiqma recehan dan buang waktu. Padahal berfungsi, mengasah otak kanan, demikian yang saya baca di “Quantum Lerning’ karya Bobbi Potter (2015) tentang otak kanan dan kiri.
Disisi lain, saya mengharuskan diri saya membaca karya fiksi karena keperluan saya untuk menulis buku biografi dan karya fiksi (cerpen dan novel) orang terdekat saya.
Berikut beberapa buku yang akan saya ulas dari bacaan saya sepanjang 2025. Tentu untuk buku-buku akademik- ilmiah tidak saya cantumkan dalam tulisan ini. Mungkin pada waktu lain :
(Buku-Buku) Karya Paolo Coelho
Paulo Coelho adalah seorang novelis dan penulis lirik terkenal asal Brasil, lahir 24 Agustus 1947. Dikenal dunia melalui karya spiritualnya yang mengajarkan pencarian makna hidup dan kekuatan mimpi, menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia dengan kisah-kisah puitis dan filosofisnya.
Ia adalah penulis yang menggabungkan pengalaman hidupnya yang kompleks dengan narasi indah, menawarkan wawasan mendalam tentang kehidupan, cinta, dan takdir kepada pembaca di seluruh dunia. Berikut 2 (dua) karyanya yang saya baca adalah :
1.Buku : Like The Flowing River (Seperti Sungai yang Mengalir)
Ini adalah buku sastera yang memukau. Buku ini adalah sebuah bahan renungan, Paolo yang bergama Katolik nyatanya begitu menghargai kepercayaan yang lain. Ia menghormati Budha, Nabi Muhammad, Yesus, Yahudi, Lao Tsu, bahkan menyematkan doa-doa yang menawan.
Banyak kisah dalam buku ini, tentang biara-biara yang indah, atau kisah-kisah yang diceritakan Rabi pada murid-muridnya. Satu yang saya petik dari buku ini , segala sesuatunya indah selama kita damai.
Biasanya setiap malam secara rutin menjelang tidur saya membaca satu atau dua kisah, karena buku ini tak harus dibaca cepat. Terdapat beberapa kisah yang pendek yang meski satu halaman, tapi pesan renungannya amat dalam dan menggugah bagi pembaca yang berpikir.
2. Buku :The Alchemist (Sang Alkemis)
Ini adalah karyanya Coelho yang membuat ia terkenal secara global. Buku ini kesannya lebih puitis daripada fiksi yang ditulis secara lugas dengan gaya bertutur dari sang penulis. Buku ini kadang kesan sebagai dongeng yang mengalir dengan mulus. Karena itu buku ini punya banyak “quate” bagus.
Jika bisa diringkas dalam 4 (empat) kata, The Alchemis adalah kisah tentang “perjalanan’, “pencarian”, “tanda” dan “pelajaran”.
Anda menginkan sesuatu? Kalau begitu kejar mimpimu dan raihlah. Selagi berjalan dengarkanlah “isyarat’ yang ditunjukan Tuhan kepadamu. Pada akhir perjalanan, kamu akan menemukan “harta karun” kadang wujudnya tidak sesuai ekspektasi. Namun perjalanan yang kamu tempuh tidak akan sisa-sia karen kamu akan mendapatkan banyak pelajaran.
Sensasinya membaca buku ini seperti kita baca kisah para Nabi di kitab suci. Namun penuturannya lebih gurih. Mungkin karena Coelho tetap ingin ceritaya mudah dinikmati atau peneterjemahnya yang jago mengalihkan bahasnya dengan luwes, tidak ada kalimat yang membuat saya terhenti sebentar karena terasa ganjil atau sulit dipahami.
Sebelum dua buku ini saya baca. Saya sudah memiliki tiga karya Coelho yang dua tahun sebelumnya yakni ; “Di Tepan Sungai Pedra Aku Menangis”, “ Adultery (Selinguh)” dan “Aleph”
***
(Empat Buku ) Karangan Dee Lestari
Nama aslinya adalah Dewi Lestari. Ia adalah seorang penulis yang mengawali karier sebagai seorang penyanyi. Saya justru mengenal ssosok ini dari lagunya “perahu kertas” yang telah diangkat di layar lebar.
Pertama kali terpapar karya-karya Dee Lestari dari istri saya lewat “Supernova”. Rasa penasaran saya ini dilanjutkan dengan buka youtube, ada banyak podcast yang mengulas tentang karya-karyanya.
1. Buku :” Tanpa Rencana”
Judul “Tanpa Rencana” oleh penulis karena buku ini lahir secara spontan. Semacam anti tesis dari buku-buku sebelumnya yang penuh rancangan yang rapi. Bahkan keunikan buku ini, oleh penulis, pengantar telah dibuat sebelum isi bukunya ditulis.
Buku ini menunjukkan, di tangan Dee Lestari, sebuah konsep sederhana atau nyeleneh bisa jadi menakjubkan dan mnguras air mata.
Melalui buku ini, Dee merenungkan kematian orang terdekatnya, khususnya suami dan ayahnya. Dalam tema “Musafir”, penulis menggalau lewat perjalanan kereta tanpa tujuan. Lewat “Bapak Aku mencoba”, beliau mengirim surat pada ayahnya, bahwa nian sulit menerima kepergiannya walaupun telah mencoba begitu keras.








Komentar