oleh

TRANS KIE RAHA: Antara Visi Pemersatu H. Thaib Armayin dan Kontroversi Implementasi Sherly Tjoanda

-OPINI-1711 Dilihat

Lebih ironis lagi, hasil dari proyek ini dinilai belum signifikan. Jalan yang dibangun hanya menghubungkan sebagian kecil wilayah, dan belum mampu menjawab tantangan konektivitas lintas pulau yang menjadi ciri khas geografis Maluku Utara. Dalam jangka pendek, mungkin proyek ini bisa memperlancar distribusi barang dan jasa di kawasan industri, tetapi dalam jangka panjang, kontribusinya terhadap pemerataan pembangunan masih dipertanyakan.

Penutup: Membangun Kembali Makna Trans Kie Raha

Trans Kie Raha seharusnya tidak direduksi menjadi proyek infrastruktur semata. Ia adalah simbol dari upaya membangun integrasi wilayah, memperkuat identitas kolektif, dan menjawab tantangan geografis Maluku Utara yang terfragmentasi oleh laut dan pulau. Oleh karena itu, implementasi proyek ini harus kembali pada semangat awalnya: inklusif, partisipatif, dan berorientasi pada kepentingan publik jangka panjang.

Bagi kalangan menengah terdidik dan akademisi, isu ini menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut. Apakah Trans Kie Raha hari ini masih setia pada visinya sebagai “jembatan Maluku Utara”? Ataukah ia telah berubah menjadi “jalan pintas” bagi kepentingan ekonomi tertentu? Pertanyaan-pertanyaan ini layak diajukan, bukan untuk menolak pembangunan, tetapi untuk memastikan bahwa pembangunan benar-benar berpihak pada rakyat.

Catatan Akhir:

Trans Kie Raha adalah cermin dari bagaimana sebuah ide besar bisa berubah makna tergantung pada siapa yang mengelolanya. Di tangan Thaib Armayin, ia menjadi simbol integrasi dan harapan. Di tangan Sherly Tjoanda, ia menjadi proyek yang dipertanyakan. Kini, saatnya publik dan akademisi mengambil peran lebih aktif dalam mengawal arah pembangunan Maluku Utara agar tidak kehilangan jati dirinya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *