Namun kini banyak praktik ini ditinggalkan akibat tekanan pasar, kurangnya regenerasi petani muda, dan minimnya dokumentasi. Jika tidak direvitalisasi, Halmahera Barat bisa kehilangan keunggulan historisnya sebagai daerah rempah.
2. Pengetahuan Perladangan Tradisional
Sistem perladangan tradisional—termasuk ladang berpindah yang terukur dan tersistem—mengandung kearifan ekologis yang jarang dipahami oleh kebijakan modern. Ada aturan adat tentang waktu membuka ladang, batas-batas lahan, komposisi tanaman, dan jeda pemulihan tanah (fallow) yang dibuat bukan hanya untuk produksi pangan, tetapi juga menjaga regenerasi hutan.
Ketika sistem ini dianggap usang, banyak daerah justru mengalami degradasi tanah dan hilangnya varietas tanaman lokal. Kegiatan budaya seperti Pekan Budaya Kota Rempah seharusnya menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali model pertanian adat ini sebagai solusi pertanian berkelanjutan.
3. Pengetahuan Perikanan Tradisional
Sebagai masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, warga Halmahera Barat memiliki teknik perikanan tradisional yang menjaga keseimbangan laut—misalnya pemanfaatan alat tangkap ramah lingkungan, pengetahuan arus dan musim, hingga larangan adat terhadap wilayah tertentu (sasi atau bentuk lokal lain) untuk menjaga keberlanjutan stok ikan.
Ironisnya, pengetahuan ini semakin terpinggirkan oleh alat tangkap modern yang merusak dan pola eksploitasi komersial. Pelestarian tradisi perikanan bukan hanya soal melindungi nelayan, tetapi memastikan bahwa laut tetap menjadi sumber kehidupan generasi yang akan datang.









Komentar