oleh

PEKAN BUDAYA KOTA REMPAH,–MERAWAT TRADISI MENGUJI KESERIUSAN PENGELOLAAN ANGGARAN

-OPINI-671 Dilihat

Beberapa pertanyaan yang patut dijawab secara terbuka antara lain: Apakah kegiatan ini didukung baseline data budaya yang jelas?. Siapa pihak yang diuntungkan dari alokasi anggaran terbesar—komunitas budaya atau justru vendor luar daerah? Apakah pendanaan dialokasikan untuk pelatihan, dokumentasi, dan pemetaan tradisi yang berkelanjutan, atau hanya untuk pertunjukan panggung yang menghilang setelah hari terakhir?

Publik butuh jaminan bahwa event yang membawa nama besar “Kota Rempah” bukan hanya panggung glamor, tetapi benar-benar menghidupkan kembali pengetahuan dan tradisi masyarakat. Sebab melestarikan budaya bukan hanya soal menampilkan tarian, tetapi memperkuat ekosistem orang-orang yang menjaga tradisi itu sehari-hari.

Baca Juga  Milad ke-24, PKS Halsel Bagi 240 Paket Barito, Bassam Kasuba : PKS Konsisten Berdiri Bersama Rakyat

Pekan Budaya Kota Rempah 2025 seharusnya mampu menjadi contoh bagaimana Halmahera Barat mengelola anggaran secara modern, transparan, dan berdampak. Jika penyelenggaraan tahun ini mampu menunjukkan inovasi—misalnya kolaborasi dengan komunitas lokal, pemanfaatan teknologi digital yang murah namun luas, dan perencanaan terukur—maka publik akan melihat bahwa pemerintah benar-benar serius merawat budaya, bukan hanya merayakannya.

Aset yang Mulai Terpinggirkan

Baca Juga  Milad ke-24, PKS Halsel Bagi 240 Paket Barito, Bassam Kasuba : PKS Konsisten Berdiri Bersama Rakyat

Di tengah berbagai tradisi yang hidup di Halmahera Barat, pengetahuan lokal tentang rempah, perladangan, dan perikanan tradisional adalah salah satu warisan paling strategis namun paling terabaikan. Padahal, ketiga pengetahuan ini merupakan dasar terbentuknya peradaban masyarakat Maluku Utara pada masa kejayaan rempah dunia.

Secara historis, masyarakat Halmahera Barat memiliki hubungan erat dengan hutan, tanah, dan laut—relasi ekologis yang melahirkan pengetahuan mendalam mengenai budidaya, pengelolaan, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. Pengetahuan lokal ini bukan sekadar praktik, tetapi sistem budaya yang mencakup nilai, ritual, serta mekanisme sosial untuk menjaga keseimbangan alam.
1. Pengetahuan Rempah: Dari Pala hingga Cengkih

Baca Juga  Milad ke-24, PKS Halsel Bagi 240 Paket Barito, Bassam Kasuba : PKS Konsisten Berdiri Bersama Rakyat

Sebagai bagian dari pusat rempah dunia, Halmahera Barat memiliki tradisi panjang dalam pengelolaan pala dan cengkih. Mulai dari pemilihan bibit, tata cara penanaman, teknik perawatan yang mengutamakan alam, hingga proses pemanenan dan pengeringan yang diwariskan turun-temurun. Pengetahuan ini membuat masyarakat lokal mampu menjaga kualitas rempah tanpa ketergantungan pada input modern yang mahal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *