oleh

KETIKA BAHASA (TAK SELALU) DIPRAKTEKKAN

-OPINI-859 Dilihat


Oleh : M.Guntur Alting

Sabtu, 01-11-2025

ANDA mungkin pernah belajar bahasa asing. Bahkan lansung di tempat asal bahasa itu.
Tapi setelah pulang ke tanah air, jarang digunakan dalam percakapan ?

Ungkapan “bahasa itu praktek dan praktek” itu benar adanya.– Anda akan merasa kaku, ragu, terbata-bata, lambat merespon dan tidak percaya diri.

Itulah yang saya alami. Malam itu (29/10). Hujan deras megguyur kota Jakarta.Saya bertugas “meng-coaching” empat mahasiswa yang akan tampil pada seminar Internasional di Malaysia 4 Nopember nanti.

Saya sedikit ‘nervous’, artikulasi agak goyang dan ‘spelling’ saya terasa tidak ngalir saat “opening dan closing”—Mereka ditugaskan buat PPT dan harus presentasikan dengan bahasa Ingris atau Arab.

Ini adalah prasyarat yang harus dilewati oleh mahasiswa sebelum maju pada ujian sidang disertasi.

Untuk kepentingan bimbingan. Setiap 4-5 orang mahasswa disupervisi oleh seorang dosen. Saya kebagian sesi-6.Memonitoring mahasiswa atas nama : Ibu Eni Suryani, Pak Suharta, Pak Sugianto dan Ibu Yohanna dari Medan.

Kembali ke dampak bahasa yang tidak dipraktekan. Saya merasa tidak mengalir, lidah kaku. Karena dikampus lebih meggunakan Inggris pasif bukan aktif. Lebih ke pemahaman teks.

Saya juga melihat ada ketegangan dan frustrasi dari wajah ke 4 mahasswa itu.Usia mereka tidak muda lagi.

“Ibu-bapak rileks ya..tak usah takut salah.
Maksimalkan saja kemampuannya. Ini bukan bahasa kita.Kalau salah sedikit, atau tak sempurna, biasa-lah” ucap saya layaknya seorang motivator, menghibur mereka.

Pada mereka saya katakan : dalam linguistik kita mengenal istilah ” native speaker” atau penutur asli. Dan kita bukan penutur asli bahasa Inggris/Arab. Artikulasi kita pasti beda dengan yang pemilik bahasa aslinya.

Mungkin saat kita berbahasa Inggris kedengaran lucu dan aneh bagi orang bule- asing. Tapi jika dibalik, mereka pun kedengaran lucu dan aneh saat berbahasa Indonesia.

Kunci dalam berbahasa, yang penting orang paham maksud kita. Dan kita juga paham maksud mereka. Soal aturan bahasa itu urusan nanti.

–000–

Tujuh belas tahun silam, tempatnya di 2008. Saya berkesempatan belajar di University Of Soutern Quensland ( USQ) negara bagian Brisbane Australia.

Saya ikuti program (Aboriginal Life) mengenal kehidupan suku Aborigin. Selain itu untuk pendalaman bahasa.

Awal perkuliahan di kelas, saya tidak selalu mengerti dan kesulitan memahami yang diajarkan oleh dosen setempat. Apalagi kalau ada tugas yang diberikan. Saya selalu keringat dingin dan frustasi.

Tapi lama kelamaan muncul keberanian. setelah menyadari bahwa saya tidak sendirian. Ada banyak teman yang mengalami hal yang sama.

Bahkan saya perhatikan dikelas, mahasiswa asal korea pun lebih parah dan meyedihkan. Karena dibandingkan dengan mereka, lidah kita Indonesia jauh lebih fasih dalam “spelling’ atau pengucapan.

Lima bulan, memang waktu yang singkat untuk bisa menguasai bahasa.

Namun pelajaran yang bisa dipetik adalah bahasa itu soal keberanian dan juga lingkungan, juga soal kultur.

Ada dua cataan saya sebagai refleksi dalam hal belajar bahasa :

Pertama, Masalah Budaya atau Kultur.

Kultur masyarakat kita Indonesia tidak terlalu mendukung untuk orang bisa belajar bahasa dengan baik. Dalam pergaulan ada teman yang berbicara dengan bahasa Ingris dikomentari ” sok keingris-ingrisan” atau bahkan dibully.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *