Soal bahasa, Malaysia jauh lebih beruntung karena pernah dijajah Ingrris. Bahasa Inggris adalah bahasa kedua, setelah bahasa melayu.
Kedua : Mengenai lingkungan.
Ada seorang teman yang bertahun-tahun tinggal di luar negeri. Ketika balik ke tanah air, hal pertama yang dilakakukan adalah mencari tempat kursus bahasa Inggris.
Ada banyak kawan yang heran dan bertanya-tanya. “Kenapa masuk kursus lagi? padahal sudah dari Eropa?”
” Saya mencari komunitas yang bisa merawat bahasa saya. Salah satunya ya tempat kursus, supaya saya bisa tetap berinteraksi dengan menggunakanbahasa inggris.” demikian alasannya saat ditanya.
Ini salah satu cara, selain
bergabung dengan komunitas yang belajar bahasa. Fenomena perkampungan Ingris di Pare di Jawa Timur dan beberapa tempat, ide dasarya untuk menciptakan lingkungan bahasa.
Belakangan saya arahkan Puteri saya untuk segera akselerasi bahasanya mengikuti jejak Kakaknya “Amira Syauqiah”. Yang berkali-kali mewakili sekolahya di ajang internasional.
–000-;
Kenapa bahasa harus dipraktikkan .setiap Hari ?.
Bahasa bukanlah sekadar pengetahuan. Bahasa adalah keterampilan. Sama seperti berenang, bermain gitar, atau memasak—Kita tidak akan mahir hanya dengan membaca buku panduan. Harus turun langsung, mencoba, berlatih, dan terus mengulangi sampai tubuh dan pikiran terbiasa.
Begitu juga dengan bahasa Inggris: ia hanya akan benar-benar melekat jika dipraktikkan dan dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa nasehat dari Mr.Rowwena, dosen bahasa saya kala itu kelas USQ-Australia. Saya coba sarikan, yang saya sendiri lalai mempratekkannya:
1. Bahasa Bukan Hafalan, Tapi Kebiasaan
Bayangkan seseorang yang menghafal ribuan kosa kata dan ratusan aturan tata bahasa, tapi jarang menggunakannya. Apa yang terjadi?
Saat berbicara, ia akan bingung memilih kata, berpikir lama, bahkan kehilangan kepercayaan diri.
Sebaliknya, orang yang mungkin hanya menguasai kosa kata sederhana tapi terbiasa berbicara setiap hari justru bisa lebih lancar, lebih percaya diri, dan lebih mudah dipahami.
Kenapa? Karena otak manusia bekerja dengan pola kebiasaan. Sesuatu yang diulang setiap hari akan menjadi refleks alami.
Itulah sebabnya, praktik jauh lebih berharga dibanding sekadar menghafal.
2. Lancar Lebih Penting daripada Sempurna
Banyak orang takut bicara dalam bahasa Inggris karena khawatir salah grammar. Padahal, inti komunikasi adalah menyampaikan pesan, bukan tampil sempurna.
Contoh ujar Mr. Rowwena: “seorang turis asing bertanya arah jalan. Lebih baik Anda menjawab dengan kalimat sederhana tapi jelas: “Go straight, then turn left” daripada diam karena sibuk memikirkan grammar yang rumit.”
Semakin sering kita berbicara, semakin lancar kemampuan itu terbentuk. Grammar bisa diperbaiki sambil berjalan, tetapi kelancaran hanya lahir dari keberanian mencoba.
3. Bahasa Itu Hidup dalam Interaksi
Bahasa tidak tumbuh dalam keheningan. Ia hidup melalui interaksi.
Saat kita berbicara dengan orang lain, mendengarkan, lalu menanggapi, kita sedang melatih tidak hanya kosa kata, tetapi juga intonasi, ekspresi, ritme, bahkan cara berpikir cepat.
Itulah mengapa orang yang sering praktik akan lebih spontan dalam merespons. Mereka tidak perlu lagi menerjemahkan kata demi kata di kepala.












Komentar