oleh

Wapres Kunjungi Malut : Gibran dan Politik Seremoni di Tengah Krisis Fiskal Daerah dan Luka Lama 3 Triliun

-OPINI-1128 Dilihat

Kritik untuk Menata Etika Kekuasaan

Kritik publik terhadap lawatan Gibran seharusnya tidak dilihat sebagai bentuk resistensi politik, melainkan sebagai pengingat moral bahwa di tengah krisis fiskal, simbolisme pejabat negara harus diarahkan pada kerja konkret, bukan pada kemegahan seremoni.

Kehadiran wakil presiden mestinya menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas fiskal daerah, mendengarkan langsung aspirasi publik, dan memastikan kebijakan pusat tidak menekan kemampuan daerah untuk membiayai pelayanan publik dasar.

Gibran perlu memahami bahwa menjadi pemimpin muda bukan hanya soal gaya dan citra, tetapi juga soal sensitivitas terhadap keadaan rakyat dan disiplin terhadap makna uang publik. Di tengah pemangkasan TKD, setiap langkah pejabat negara — apalagi di tingkat nasional — harus mencerminkan etos penghematan, bukan etalase kemewahan.

Penutup: Pelesiran Kekuasaan di Era Krisis

Kunjungan Gibran ke Maluku Utara telah membuka perdebatan publik yang lebih luas: tentang bagaimana elite politik memahami makna kepemimpinan dalam masa krisis fiskal. Bila kehadiran pejabat pusat tidak disertai hasil konkret, maka lawatan tersebut hanya akan dikenang sebagai pelesiran kekuasaan di tengah penderitaan fiskal daerah.

Sejarah tidak menulis siapa yang datang paling sering, tetapi siapa yang meninggalkan perubahan paling nyata. Dan itulah ujian sesungguhnya bagi seorang wakil presiden muda di tengah bangsa yang sedang berhemat.

Salam santun pak Wapres !

Ternate, Jumat, 17/10/2025

 

Dapur Redaksi PIKIRAN UMMAT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *