oleh

TAJUK EDITORIA : Kawasi Ecovillage: Ketika Tambang Menjadi Sekolah Peradaban

-Editorial-308 Dilihat

Jarang sekali sejarah mencatat bahwa tambang simbol kekayaan sumber daya yang sering berujung pada luka sosial justru menjadi titik awal lahirnya sebuah peradaban baru. Namun, Kawasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, membuktikan bahwa hal itu mungkin.

Desa yang dulu terpinggirkan, dengan jalan tanah, rumah kayu reyot, dan fasilitas pendidikan yang serba terbatas, kini menjelma menjadi Ecovillage berstandar internasional. Di sana berdiri rumah-rumah sehat, sekolah modern, puskesmas, tempat ibadah lintas agama, dan pusat ekonomi masyarakat yang hidup berdampingan dengan industri tambang terbesar di Maluku Utara.

Transformasi Kawasi bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Ia adalah narasi tentang visi, keberanian, dan tanggung jawab.
Dua dekade silam, H. Muhammad Kasuba, saat masih menjabat Bupati Halmahera Selatan, memiliki keberanian yang jarang dimiliki banyak kepala daerah: menempatkan masyarakat sebagai pusat dari investasi tambang. Ia tidak melihat nikel semata sebagai sumber pendapatan, melainkan sebagai sumber peradaban baru — di mana masyarakat lingkar tambang tidak lagi menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari kemajuan itu sendiri.

Dari imajinasi seorang kepala daerah lahirlah gagasan relokasi Kawasi menjadi Ecovillage, dan dari komitmen perusahaan seperti HARITA Nickel, gagasan itu menemukan wujudnya. Sinergi pemerintah dan korporasi inilah yang membedakan Kawasi dari banyak kisah kelam tambang di Indonesia, di mana kekayaan alam sering kali meninggalkan kemiskinan sosial dan degradasi lingkungan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *