oleh

Surat Terbuka ISNU Maluku Utara Untuk Sherly, Sarbin dan Iqbal : Saatnya APBD Menyapa Rakyat, Bukan Sekadar Menghitung Proyek

-HEADLINE-1658 Dilihat

Rasionalisasi Anggaran: Pangkas Seremoni, Tambah Pangan

Untuk merealisasikan program tersebut, ISNU mengajukan kebutuhan dana Rp 80 miliar yang dapat diperoleh dari realokasi anggaran.
Rinciannya:

Rp 25 miliar dari pengurangan kegiatan administratif Sekretariat Daerah dan biro-biro,

Rp 40 miliar dari kegiatan konsultatif SKPD yang tidak produktif, dan

Rp 15 miliar dari efisiensi kegiatan seremonial DPRD.

“Anggaran bukan soal besar kecilnya, tapi arah dan keberpihakan. Lebih baik memangkas seremoni daripada membiarkan lahan rakyat tetap tidur,” kata Mukhtar.

Baca Juga  Gempa Dahsyat Melanda Ternate, Rumkit Dharma Ibu Sampai Evakuasi Pasien Ke Ruang UHD

Membangun dengan Nurani

Di akhir suratnya, ISNU Malut mengingatkan para pemimpin daerah untuk menimbang kebijakan dengan nurani.

“Pembangunan sejati bukan diukur dari banyaknya proyek, melainkan dari berapa banyak rakyat yang berdaya dan berdaulat,” tulis mereka.

ISNU menegaskan, keberanian untuk menata ulang anggaran daerah adalah ujian kepemimpinan sejati. Di tengah keterbatasan fiskal dan tekanan investasi besar, keberpihakan pada rakyat kecil menjadi ukuran moral sebuah pemerintahan.

Baca Juga  Politik Keuangan Daerah Presiden Prabowo Dikritik Para Pakar

“Jangan biarkan Maluku Utara hanya dikenal karena nikel. Biarlah ia juga dikenal karena berasnya, ikannya, kopranya, dan kemandirian rakyatnya,” tutup surat itu dengan nada reflektif.

Antara Janji dan Arah Baru

RAPBD 2026 memang belum diketok, tapi perdebatan yang dimunculkan oleh ISNU bisa menjadi momentum penting. Dalam sejarahnya, Maluku Utara sering menjadi panggung bagi proyek besar nasional, namun belum cukup kuat membangun basis ekonomi rakyat.

Baca Juga  Ketum DPP Partai Golkar Buka Musda DPD Partai Golkar Malut, Alien Kembali Nakodai Beringin Malut

Jika rekomendasi ISNU didengar, RAPBD 2026 berpotensi menjadi tonggak baru — dari APBD yang berorientasi proyek menuju APBD yang berjiwa rakyat.

Namun jika diabaikan, kekhawatiran ISNU mungkin akan menjadi kenyataan: pertumbuhan tetap tinggi, tapi kesejahteraan makin timpang.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *