Karena itu, semua pihak, baik calon maupun pendukung, perlu menahan diri dan mengisi ruang politik dengan wacana yang mencerahkan. Politik Ternate seharusnya menjadi contoh bahwa perbedaan bisa menjadi energi positif, bukan sumber perpecahan.
Demokrasi yang bermartabat bukan diukur dari siapa yang menang, tetapi dari seberapa besar rakyat tercerahkan oleh prosesnya. Mari kita jadikan momentum Pilwako Ternate sebagai ruang pembelajaran politik bahwa kekuasaan hanyalah alat, sementara pengabdian dan gagasan adalah tujuan utama.
Dengan cara itu, Ternate bukan hanya melahirkan pemimpin, tetapi juga peradaban politik yang lebih matang, santun, dan bermartabat.***














Komentar