Ketika jutaan masyarakat masih berjuang menghadapi dampak inflasi, harga bahan pokok yang naik, serta keterbatasan lapangan kerja, tayangan berdurasi 30 menit di TV nasional hanyalah simbol jarak antara elit dan realitas.
Ini bukan sekadar masalah teknis anggaran, tapi cermin krisis empati kekuasaan.
—
Bicara Kinerja, Bukan Kamera
Seorang pemimpin dinilai bukan dari seberapa sering ia tampil di televisi, melainkan seberapa dalam rakyat merasakan hasil kerjanya.
Jika komunikasi publik diartikan sekadar tampil di layar, maka kita sedang kehilangan makna dasar dari kepemimpinan: melayani, bukan dipertontonkan.
Gubernur Sherly semestinya memahami bahwa komunikasi politik bukanlah promosi personal. Ia adalah jembatan kepercayaan antara rakyat dan pemerintah, bukan panggung narsisme yang dibayar dengan uang rakyat.
Dalam konteks ini, kritik yang datang dari pengamat kebijakan publik Muslim Arbi sangat relevan: kebijakan itu seolah “menjual diri lewat televisi” di tengah keterbatasan daerah.
—













Komentar