oleh

Persatuan Landasan Utama Lahirnya Sumpah Pemuda


 

Medan — PU||Kalangan akademisi dan aktivis mahasiswa mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan memperkuat daya kritis generasi muda di tengah polarisasi yang dipicu media sosial. Pemuda juga dituntut mampu melahirkan gagasan dan tindakan nyata untuk menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

Hal itu mengemuka dalam diskusi bertajuk “Menyongsong Seabad Sumpah Pemuda dan Tantangan Ruang Gema: Polarisasi Pemuda dan Merawat Persatuan di Era Algoritma” di Medan, yang dipandu Rafael Sinaga, SH, dengan menghadirkan sejumlah akademisi dan aktivis kepemudaan antara lain, Akademisi A. Fattah Lubis, S.Sos, MIP, Komda PMKRI Sumut-NAD, Sirdo Sagala, SH, Ketua Agitasi dan Diplomasi Politik Viva Voce, Kristoporus Simamora, S.Sos dan Ketua Presidium PMKRI Cabang Medan, Nicola Simarmata, S.Sos,

Baca Juga  INFO GRES ! DPP Partai Golkar Kabarnya Ganti Alien Mus Dari Pucuk Pimpinan DPD Golkar Malut - Siapa Penggantinya?

Akademisi USU, A. Fattah Lubis, S.Sos, MIP dalam pemaparannya menjelaskan, Sumpah Pemuda 1928 lahir dari kesadaran generasi muda untuk mengesampingkan perbedaan latar belakang dan bersatu memperjuangkan cita-cita kebangsaan.

Namun, menurutnya, tantangan pemuda saat ini berbeda. Ketergantungan pada gawai dan media sosial dinilai perlu diimbangi dengan kebiasaan membaca, kepekaan sosial, serta kemampuan menindaklanjuti gagasan menjadi tindakan nyata.

Baca Juga  ALHAMDULILLAH ! Setelah 2 Pekan Rakyat Diasapi Karhutla, Gub Sherly Baru ke TPA Takome Bawa Harapan Baru

“Jangan sampai kita hanya menyalahkan instansi dan pemerintah tanpa merefleksikan diri sendiri. Pemuda harus mampu menindaklanjuti gagasan yang dimiliki,” ujarnya. Ia juga mengingatkan generasi muda agar selektif menggunakan media sosial.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *