oleh

Negara-Negara Teluk Jangan Jadi Pengecut

 

Tony Rosyid : Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Perang teluk pecah. Amerika dan Israel yang memulai. Tanggal 28 Pebruari, kedua negara ini menyerang Iran. Alasannya? Iran dituduh melakukan pengayaan nuklir.

Dunia tak percaya. Berbagai tim investigasi memastikan tuduhan itu “omong kosong”. Modusnya mirip kasus penyerangan Amerika ke Iraq 23 tahun lalu. Tepatnya 19 Maret 2003. Tuduhannya: Irak punya senjata pembunuh massal. Perang selesai, tuduhan itu tak terbukti. Alias omong kosong. 11-12 dengan penyerangan Amerika dan Israel ke Iran saat ini.

Baca Juga  RUU Kepulauan dan Potensi Disintegrasi di Negara Kepulauan

Amerika menyerang Iran. Ada lima negara teluk yang menjadi landasan Amerika menyerang Iran. Yaitu Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar.

Penyerangan di awal sukses. Berhasil menewaskan pimpinan Iran Ayatollah Ali Khemeini. Sebelumnya, Amerika dan Israel juga telah berhasil membunuh sejumlah elit penting Iran. Bahkan, pembunuhan itu terjadi di sejumlah negara teluk di luar Iran. Apakah negara tempat terjadi pembunuhan itu protes? Tidak.

Baca Juga  Amerika Makin Terkunci

Terjadinya sejumlah aksi pembunuhan terhadap elit Iran, ternyata tidak punya pengaruh apapun terhadap sikap Iran terhadap Israel, dan juga Amerika. Iran tetap berpikir Israel dan Amerika itu penjajah. Iran mengambil posisi menolak untuk tunduk. Beda dengan negara teluk. Sami’na wa atha’na kepada Amerika.

Setelah sukses membunuh Ayatollah Ali Khemeini, Amerika menyerukan gencatan senjata. Amerika berpikir, Ayatollah Ali Khemeini adalah aktor kunci. Dengan terbunuhnya Khemeini, Iran akan menyerah. Transformasi politik akan terjadi dengan peralihan kepemimpinan yang lebih pragmatis dan lunak terhadap Israel dan Amerika. Faktanya? Tidak.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *