Di tengah politik yang gaduh, publik Ternate mendambakan pemimpin yang cerdas. Gelar akademik Doktor yang disandang Rizal Marsaoly bukan sekadar hiasan di belakang nama.
Gelar itu membentuk persepsi kuat: dia adalah sosok teknokratik, rasional, berbasis data, bukan sekadar retorika. Di kalangan milenial dan Gen Z – yang memberinya 40% suara – ini adalah poin paling seksi. Mereka tidak butuh pemimpin yang hanya pandai berorasi, tapi yang mengerti cara menyelesaikan masalah.
6. Modal Kultural: Dekat dengan Kesultanan
Ini yang tidak bisa ditiru oleh pendatang baru. Ternate adalah Kota Kesultanan. Legitimasi kultural itu penting.
Rizal Marsaoly memiliki kedekatan yang terjaga dengan lembaga Kesultanan Ternate. Dia lah birokrat yang paling mendekatkan pemerintah Kota dengan Kesultanan Ternate.Masyarakat adat ternate tentu masih mengenang bagaimana desain Rizal menjadikan agenda resmi HUT Ternate sebagai agenda bersama Pemkot dengan keraton kesultanan Ternate.
Di kota yang adatnya masih sangat kuat, ini adalah modal sosial yang nilainya melebihi baliho mana pun.
7. Modal Paling Pamungkas: Dianggap Paling Paham Masalah dan Solusi Ternate
Jika 6 poin di atas digabungkan, lahirlah persepsi final: Rizal Marsaoly dipersepsikan sebagai pemimpin masa depan yang ideal karena paling menguasai peta masalah sekaligus solusinya.
Mau tanya soal banjir, drainase, APBD, pariwisata, perumahan? Jawabannya ada di kepala Sekda. Rivalnya mungkin hanya bisa mengkritik masalah. Rizal sudah mengerjakan solusinya selama 10 tahun.
Jadi, jika hari ini survei menunjukkan Rizal unggul 50%, itu bukan hasil sulap lembaga survei. Itu adalah akumulasi logis dari 10 tahun kerja, 10 tahun popularitas, 10 tahun eksposur, dan 10 tahun kedekatan dengan warga.
Survei hanya memotret apa yang sudah lama ada di memori kolektif orang Ternate.***










Komentar