Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar merayakan besarnya angka investasi. Tanpa hubungan produksi yang kuat, daerah dapat menjadi pusat produksi global, tetapi kemiskinan tetap hadir dan dibungkus narasi kemajuan.
Kita dapat membangun industri bernilai ratusan triliun rupiah, tetapi bila petani tidak memiliki kepastian harga, nelayan kehilangan akses pasar, dan anak-anak muda setempat tidak menjadi bagian penting dari produksi, industrialisasi itu belum sepenuhnya menjadi transformasi kesejahteraan.
Mesin industri boleh menjadi milik dunia, tetapi kesejahteraan tidak boleh menjadi sesuatu yang asing bagi rakyat yang tinggal di sekitarnya.
Moloku Kie Raha: Tanah Rempah yang Pernah Mengubah Sejarah Dunia
Jauh sebelum nikel mengubah wajah industri Maluku Utara, wilayah ini telah dikenal dunia karena rempah-rempah. Ternate dan Tidore menjadi pusat perdagangan cengkeh yang menarik perhatian pedagang dari berbagai kawasan. Rempah-rempah dari kepulauan Maluku turut membentuk sejarah perdagangan maritim, persaingan kekuasaan, dan hubungan ekonomi global. Dalam kajian sejarah ekonomi, perdagangan rempah merupakan salah satu penggerak penting ekspansi jaringan perdagangan lintas samudra.
Anthony Reid (1988; 1993), dalam Southeast Asia in the Age of Commerce, menggambarkan peranan komoditas perdagangandan jaringan maritim dalam perubahan ekonomi Asia Tenggara. Sementara itu, Andaya (1993), melalui The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period, memperlihatkan bahwa sejarah Maluku tidak dapat dilepaskan dari hubungan perdagangan, kekuasaan, kebudayaan, dan struktur masyarakat kepulauan.
Maluku Utara bukan wilayah yang baru mengenal ekonomi global ketika industri nikel datang. Berabad-abad sebelum dunia membutuhkan baterai kendaraan listrik, dunia telah datang ke Maluku untuk mencari cengkeh.
Dahulu dunia mendatangi kepulauan Moloku karena rempah; kini dunia kembali datang karena mineral. Dulu Moloku dijajah karens cengkeh; apakah nikel akan menjadi model penjajahan kedua ? Lalu berapa bagian kekayaan tanah leluhur itu bagi kehidupan 1,3 juta penduduk di 69 pulau berpenghuni?
Apakah kita sedang menunggu sejarah berulang, ketika komoditas berubah menjadi penjajahan? Atau teknologi berkembang, investor berganti, tetapi kemiskinan tetap kita nikmati?
Kawasan Industri Rempah (Kie Raha)
Moloku Kie Raha, identitas historis dan kultural empat kesultanan, maknanya lebih besar daripada nama sebuah kawasan. MKR menyimpan ingatan tentang peradaban maritim, perdagangan, pengetahuan lokal, hubungan antar pulau, dan kehidupan masyarakat yang bertumpu pada sumber daya alam.
Karena itu, membangun Kawasan Industri Kie Raha bukan nostalgia untuk mengembalikan kejayaan masa lalu. Kie Raha adalah upaya menjadikan warisan ekonomi masyarakat sebagai dasar industrialisasi baru.
Cengkeh tidak harus berhenti sebagai bunga kering; pala tidak harus berakhir sebagai biji mentah; kelapa tidak berhenti di kopra; kenari tidak hanya berlaku di pulau; hasil laut tidak tertanam di pasir. Komoditas rakyat memiliki peluang produk olahan bernilai tinggi: minyak atsiri, bahan baku industri, produk kesehatan dan kosmetik, serta aneka produk bernilai tambah yang dapat memasuki pasar global.
Yang dibutuhkan bukan hanya kemauan petani untuk bekerja—mereka telah bekerja sepanjang generasi. Yang belum cukup hadir adalah sistem industri yang membuat kerja keras mereka memoerolah nilai ekonomi yang adil.
Satu Permintaan kepada Presiden: Bangun Kawasan Industri Rempah Moloku Kie Raha
Presiden Prabowo Subianto,
Kami memahami bahwa Indonesia membutuhkan investasi besar, industri maju, teknologi modern, kemandirian energi, serta kemampuan mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah. Kami tidak menolak industrialisasi. Kami juga memahami bahwa industri mineral memiliki kedudukan strategis dalam membangun kemandirian ekonomi nasional.
Namun, izinkan kami menyampaikan satu permintaan sederhana yang lahir dari kehidupan rakyat: Bangunlah Kawasan Industri Rempah Kie Raha di Sidangoli sebagai pendorong Ibu Kota Sofifi, penyeimbang bagi semua wilayah, berada di tengah Pulau Halmahera, dan merangkai gugus pulau lainnya.
Bangunlah kawasan industri yang menjadikan cengkeh, pala, kelapa, kenari, hasil laut, dan komoditas rakyat sebagai fondasi kegiatan produksi modern yang mengglobal. Kami tidak meminta agar pembangunan industri mineral dihentikan. Kami meminta agar rakyat yang selama ini menjaga kebun, mengolah tanah, dan mengarungi laut tidak tertinggal dalam perjalanan besar industrialisasi yang mengepung tanah kami.
Kami ingin petani menjadi bagian dari rantai nilai industri, bukan sekadar pemasok bahan mentah dengan harga yang ditentukan pihak lain. Kami ingin nelayan tidak hanya memiliki keberanian menghadapi gelombang, tetapi juga memiliki pelabuhan perikanan yang berfungsi, penyimpanan dingin, pengolahan hasil, pembiayaan yang terjangkau, dan akses pasar yang pasti. Kami ingin anak-anak petani cengkeh dan kelapa dapat belajar teknologi pangan, teknik industri, kimia terapan, pemasaran digital, dan manajemen produksi, lalu kembali kekampung untuk membangun ekonomi daerahnya. Kami ingin generasi muda Maluku Utara melihat masa depan di kebun orang tuanya sendiri, bukan hanya pada pagar-pagar tinggi kawasan industri yang sulit didekati.
Bila negara mampu menghadirkan infrastruktur untuk industri mineral, negara juga harus mampu membuka akses infrastruktur bagi industri rempah. Bila investasi besar dapat memperoleh fasilitas energi, air, jalan, pelabuhan, dan kepastian layanan, maka industri pengolahan rempah dan hasil laut pun layak memperoleh dukungan pembangunan yang sama.
Kami tidak meminta negara membagikan kekayaan tanpa kerja. Kami meminta negara membangun kesempatan agar kami dapat bekerja, menghasilkan, mengolah, memiliki, dan menikmati nilai tambah dari kekayaan tanah leluhur kami.
Ambillah manfaat mineral dari tanah kami melalui pengolahan yang sah, adil, dan berkelanjutan. Bangunlah industru besar untuk masa depan Indonesia. Tetapi jangan lupakan pohon kelapa yang menaungi kehidupan kami, cengkeh dan pala yang membesarkan anak-anak kami, serta laut yang memberi makan keluarga kami.
Jika tanah kami diekspor 5 kontainer ke Tiongkok, tolong sisihkan 1 kontainer untuk kelapa kami; jika 5 kontainer nikel, 1 kontainer untuk cengkeh kami. Ambil tanah kami, tetapi jangan tinggalkan rempah yang menghidupi Jazirah Al’Mulk.***















Komentar