Di sinilah pertaruhan itu dimulai.
Dalam kebudayaan kita, Istana sering kali memiliki daya serap yang luar biasa. Ia sanggup menjinakkan suara yang paling vokal, meredam gelisah yang paling tajam, menjadi keheningan yang santun.
Apakah Margarito akan tetap membawa kejelian dan keberanian akademisnya ke dalam ruang penasihat?
Ataukah, sebagaimana acap kali terjadi dalam sejarah kekuasaan, jarak antara idealisme pasal dan praktisme istana akhirnya melebur dalam retorika yang tenang?
Kita belum tahu. Yang jelas, sejarah tak pernah dicatat dari niat baik di awal pelantikan, melainkan dari keberanian untuk mengatakan “tidak” ketika hukum hendak dibelokkan.
Selamat bertugas Bang Ito..
Rakyat Indonesia menanti keberanianmu.🙏 (**)
—
Jakarta, 4 Oktober 2026
Pukul: 07:43








Komentar