oleh

MENENUN PULANG DI TANAH RANTAU – Refleksi atas Silaturahmi Akbar Keluarga Besar Tidore Jabodetabek


Kita hidup berimpitan namun saling asing. Pintu-pintu rumah dikunci rapat oleh rasa curiga dan lelah.

Hingga pada suatu hari, sebuah undangan kecil hadir di layar hp kita.

Sebuah seruan untuk berkumpul, “merajut silaturahmi Keluarga Besar Tidore Mabarakati Jabodetabek,” pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di sebuah tempat kopi di Pasar Minggu.

​Bagi sebagian orang, ini barangkali sekadar acara kumpul-kumpul warga. Agenda rutin akhir pekan untuk melepas lelah.

Namun, jika kita mau menengok lebih dalam ke ruang batin seorang perantau, pertemuan semacam ini tidak pernah sekadar soal makan bersama atau bertukar kabar basa-basi.

Baca Juga  Selektif Hukum dan Birokrasi Bayangan di Sektor Agraria.

Ini adalah ikhtiar kultural untuk melawan kepunahan “ingatan.” ​Sebab, apa sebenarnya yang kita bawa ketika merantau?

​Kita tidak hanya membawa ijazah, lamaran pekerjaan, atau mimpi-mimpi tentang kelas menengah urban/kota.

Kita membawa sebuah lanskap batin.

Ada aroma cengkeh dan pala yang menguap dari pekarangan masa kecil di kampung-kampung kita di Tidore. Ada bayangan tinggi Kie Matubu yang berdiri membelah langit Tidore.

Baca Juga  Intermediary Finance Perbankan Pola Linkage Program dan Solusi Pembiayaan Sektor UMKM, MBG dan KMP di Indonesia.

Ada debur ombak Laut di pinggir pantai yang sejak kecil menjadi sahabat bagi detak jantung kita.

​Ketika seseorang memutuskan pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Ia sebenarnya sedang membelah dirinya menjadi dua: “raga yang berjalan di atas aspal Jakarta, dan jiwa yang tertinggal di kampung halaman Tidore.”

​Maka, ketika undangan itu menyerukan kalimat, “Jauh dari kampung halaman bukan berarti jauh dari saudara”.

Sebenarnya ia sedang menyentuh satu titik paling rapuh dalam diri kita: “kerinduan akan keintiman yang hilang.”

Baca Juga  Jacob Ereste : Sinergi Antara Pemerintah Dengan Rakyat Yang Perlu Dibangun UIang

-000-

​Di kampung halaman, ikatan sosial bekerja secara alami. Orang mengenal nama orang tua kita, tahu di lorong mana kita dibesarkan, dan berbagi duka serta suka tanpa perlu diundang secara formal.

Hubungan antarmanusia terajut oleh tenunan sejarah yang panjang dan tak kasat mata. Namun di Jakarta, ikatan itu lepas. Hubungan menjadi transaksional, dingin, dan penuh hitungan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *