oleh

Meluruskan Kiblat Sejarah dan Menggugat Keadilan untuk Pulau Makian


Amnesia sejarah ini terjadi bukan tanpa sebab. Penulisan sejarah arus utama kerap kali melompat langsung pada dominasi politik Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di masa-masa akhir kolonial. Kita sering melupakan jejaring tertua di Bumi Moloko Kie Raha (Empat Gunung Maluku).

Tariklah garis waktu ke tahun 1322, jauh sebelum bangsa Eropa menginjakkan kaki di Nusantara. Di sana berdiri Kesultanan Al-Maqiyah yang berpusat di Pulau Makian. Inilah kesultanan tertua yang meletakkan dasar tatanan sosiopolitik kawasan.

Baca Juga  Jika Kapolri berbasic Reserse dan Kejagung berbasic Intelejen — Oleh: Muslim Arbi /Pengamat hukum dan politik

Seiring dinamika alam—termasuk ancaman letusan Gunung Kie Besi—poros kekuasaan tertua ini melakukan hijrah spiritual dan fisik yang dikenal dalam ingatan kultural sebagai peristiwa Marabose, berpindah ke Kasiruta hingga akhirnya menetap menjadi Kesultanan Bacan yang kita kenal sekarang. Kekaburan sejarah akibat migrasi politik ini kemudian dimanfaatkan oleh kolonial Belanda melalui format Gouvernement der Molukken untuk menggeser label administratif “Maluku” ke pusat militer mereka di Ambon, sebuah warisan kolonial yang sayangnya diadopsi mentah-mentah hingga era otonomi daerah 1999.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *