Oleh: M.Guntur Alting
—
ADA hari dalam kalender yang berjalan dengan langkah berat, menyeret kaki seperti orang kelelahan menapaki tanjakan terjal.
Namun ada pula hari yang datang seperti embusan angin sore di beranda rumah: melegakan, memberi janji, dan membasuh debu penat yang menempel di kepala selama sepekan penuh.
Hari itu bernama Jumat.
Bagi kebanyakan kita, Jumat bukan sekadar angka pada lembaran kalender atau penanda urutan fajar.
Ia datang tidak sebagai penutup yang lelah, melainkan sebuah jeda—titik koma yang panjang di tengah kalimat kehidupan yang terlampau cepat.
-000-
Di kota ini, menjelang siang, udara mendadak berubah. Ada desing yang berbeda di jalan-jalan raya. Sepasang mata melirik jam tangan, lalu menatap langit yang kadang terik, kadang menyimpan mendung.
Orang-orang bergegas, bukan karena takut terlambat, tapi karena mereka tahu ada ruang tunggu yang “sakral” di hadapan sana: waktu salat Jumat.
Kita hidup dalam zaman yang menuntut segala hal serba instan. Layar gawai menyala tanpa henti, notifikasi berderik seperti jangkrik malam, dan target-target pekerjaan mengejar kita hingga ke mimpi.
Manusia modern telah lama menjadi tawanan dari apa yang disebut “produktivitas.”
Kita berlari, terengah-engah, meyakini bahwa berhenti sebendar adalah sebuah kekalahan.















Komentar