Sebuah organisasi yang membawa nama masyarakat harus memiliki tanggung jawab untuk mendengar suara masyarakatnya. Kepengurusan bukan pemilik organisasi, melainkan penerima amanah yang sewaktu-waktu harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya.
Oleh karena itu, refleksi terhadap perjalanan 48 tahun Makayoa seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif. Kita perlu berhenti sejenak, melihat perjalanan yang telah dilalui, mengidentifikasi persoalan yang belum terselesaikan, dan menyusun kembali arah perjuangan kelembagaan.
Kita tidak sedang berusaha meruntuhkan Makayoa. Kita justru ingin menyelamatkan makna keberadaannya agar tidak kehilangan relevansi di tengah perubahan zaman.
Kita tidak ingin generasi berikutnya hanya mewarisi nama besar Makayoa, sementara persoalan kelembagaan yang sama terus berulang. Mereka harus mewarisi organisasi yang hidup, produktif, independen, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakatnya.
Empat puluh delapan tahun adalah perjalanan sejarah yang patut dihormati. Namun, sejarah tidak boleh hanya dikenang dan dibanggakan. Sejarah harus menjadi landasan untuk melahirkan perubahan dan kemajuan.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah berapa lama Makayoa telah berdiri, melainkan apa yang telah dilakukan dan diwariskan bagi masyarakat Makian dan Kayoa.
Sudah saatnya kita mengubah kebanggaan terhadap usia organisasi menjadi tanggung jawab untuk membangun masa depan. Makayoa tidak cukup hanya dipertahankan sebagai nama dan simbol persaudaraan. Makayoa harus hadir sebagai kekuatan sosial yang bekerja, mengabdi, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakatnya.
Sebab, persaudaraan tidak cukup hanya diucapkan dalam pertemuan. Persaudaraan harus dibuktikan melalui kepedulian, kerja nyata, dan tanggung jawab bersama.
48 tahun sudah menjadi perjalanan sejarah. Kini saatnya Makayoa membuktikan makna keberadaannya bagi masyarakat.













Komentar