oleh

Jacob Ereste: “Pelaksanaan Program MBG dan Koperasi Merah Putih Sungguh Mulia Bila Benar Untuk Rakyat”

-Nasional-65 Dilihat

BGN diminta membuat brosur panduan menu, takaran gizi, dan jadwal pelaksanaan MBG di sekolah.

“Pilihan cara ini tidak cuma dapat menghemat biaya operasional, mulai dari pembuatan dapur dan segenap peralatan. Tapi juga lebih efisien dan efektif. Tidak perlu biaya antar jemput makanan serta omprengan yang harus diambil kembali dan dibersihkan,” ujarnya.

Baca Juga  HIKMU Audensi ke Walikota Try Adhianto, Ajak Hadiri Pelantikan HIKMU 22 Agustus

Dengan skema ini, siswa cukup membawa bekal dari rumah seperti biasanya saat jam istirahat.

Usulan 2: Libatkan Kantin Sekolah dan Koperasi Desa
Alternatif kedua, kata Jacob, adalah melibatkan kantin sekolah, kelompok ibu-ibu, atau Koperasi Desa setempat sebagai pelaksana teknis MBG.

Ia mengusulkan pembatasan jumlah porsi per kelompok pengelola. Idealnya maksimal 250 – 500 porsi agar mudah diawasi dan tidak dimonopoli pengusaha besar.

Baca Juga  Jaga Keamanan Perbatasan, Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonarmed 19/Bogani Terima Dua Senjata Api Rakitan dari Warga

“Satu sekolah bisa dilayani beberapa kelompok satuan pengelola MBG sehingga lebih gampang diawasi secara seksama. Pembatasan ini juga memberi peluang UMKM setempat ambil bagian, dan pasar tradisional tidak tertekan pemasok besar,” jelasnya.

Jacob juga mempertanyakan mengapa program MBG tidak dikolaborasikan dengan Koperasi Desa Merah Putih yang juga bertujuan mewujudkan ekonomi Pancasila berbasis koperasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *