Di meja yang sama duduk Wali Kota Ternate yang juga Ketum Persiter Dr. H. M. Tauhid Soleman, para legenda, pemilik klub, PSSI Malut, PSSI Kota, sampai jajaran pengurus Persiter.
Tujuannya satu: menyusun peta jalan kebangkitan Laskar Kie Raha.
“Intinya kami akan membangkitkan kembali Persiter Ternate. Pak Wali ingin berdiskusi dengan teman-teman legenda untuk mendapatkan masukan dan saran dalam rangka kesiapan Persiter untuk bisa bangkit kembali,” ujar Dr. H. Rizal Marsaoly.
2. MEMBANGKITKAN BUKAN HANYA TIM, TAPI EKOSISTEM
Bagi H. Ical, menghidupkan Persiter bukan sekadar turun ke Liga 4. Itu pekerjaan besar membangun kembali ekosistem sepakbola Ternate.
Dua langkah strategis langsung ia dorong:
Pertama, menghidupkan kembali Stadion Gelora Kie Raha.
Stadion itu harus kembali jadi “benteng” dan rumah bagi sepakbola Ternate. Tanpa kandang, klub sebesar apa pun akan kehilangan jiwanya.
Kedua, memisahkan klub dari APBD.
Sesuai regulasi sepakbola modern, klub profesional dilarang digaji APBD. H. Ical menjawabnya dengan jalur profesional.
Saat ini legalitas badan hukum Persiter dalam bentuk PT sudah 90% rampung. Setelah itu, operasional dan pembiayaan klub akan di-takeover penuh oleh *PT Maluku Maju Sejahtera (MMS)* — perusahaan yang sebelumnya menangani Malut United.
“Dari sisi regulasi memang tidak dibenarkan lagi ada alokasi anggaran di dalam APBD. Sehingga setelah badan hukum terbentuk, pembiayaan sepenuhnya melalui PT MMS. Untuk Liga 4 dan Liga 3, seluruh pembiayaan akan ditanggung oleh PT MMS,” tegas Rizal Marsaoly.








Komentar