oleh

Politisi Sorot Kritis Data APBD Malut 2025: Ada Selisih Rp26 Miliar Antara BPKAD dan Ranperda, Diduga Pembohongan Publik

-HEADLINE-276 Dilihat

Potensi Hilangnya Kepercayaan Publik

Menurut Muzakir, perbedaan data mendasar seperti SiLPA tidak boleh terjadi. SiLPA merupakan indikator penting akuntabilitas penggunaan APBD.

“Informasi yang menyimpang membuat publik sulit mempercayai Gubernur dalam pengelolaan keuangan daerah. Ketika data dasar saja berbeda, maka potensi kecurangan oleh pemda sangat tinggi dari ketidakjujuran dalam menyajikan informasi publik”ujarnya.

Baca Juga  “Dana Nganggur Rp1,2 Triliun, Tapi Drama Gub Sherly di Senayan”, Pengamat: Ini Bukan Soal Tidak Ada Uang, Tapi Soal Prioritas dan Etika Pemerintahan

Ia menilai kondisi ini berbahaya bagi tata kelola pemerintahan. Publik berhak mendapatkan data yang sama, benar, dan dapat dipertanggungjawabkan, baik yang disampaikan ke DPRD maupun ke media.

“Ini bukan soal teknis. Ini soal integritas. Kalau pejabat publik saja tidak konsisten menyampaikan data, bagaimana masyarakat bisa percaya?” tambahnya.

Desak Klarifikasi Terbuka

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *