oleh

LANGIT-LANGIT MUHARRAM – Hijrah: Jalan Sunyi Menuju Kemanusian


 

Oleh: M.Guntur Alting

​ADA yang berubah setiap kali kalender bulan membalik halamannya, tapi sering kali kita tak menyadarinya.

Muharram datang bukan dengan bunyi trompet atau letupan kembang api yang membelah malam.

Ia datang dengan tenang, hampir seperti desah napas di antara “debu gurun” yang lampau—sebuah pengingat bahwa waktu, pada hakikatnya, adalah sebuah perjalanan yang sunyi.

Baca Juga  Pendidikan Tidak Hanya untuk Rakyat: Soal Etika Kekuasaan yang Mesti Dididik Ulang

​Kita bicara tentang Hijrah. Di sekolah-sekolah, kita diajarkan bahwa ini adalah kisah tentang pelarian. Tentang sekelompok orang yang tersisih karena mempertahankan keyakinan.

Tapi, jika kita duduk sejenak dan menyingkap tirai sejarah itu lebih dalam, Hijrah bukanlah sebuah kekalahan.

Ia adalah sebuah “hijrah mental”—sebuah keputusan radikal untuk keluar dari kepompong ego yang sempit menuju cakrawala kemanusiaan yang lebih luas.

Baca Juga  GURABATI OPEN: SEBUAH PERAYAAN EKSISTENSI

​Lihatlah Indonesia hari ini. Kita adalah sebuah negeri yang sedang gaduh. Di ruang-ruang digital yang bising, kita sibuk membangun tembok-tembok identitas.

Kita merasa aman di dalam “benteng” kita sendiri, sambil menunjuk yang lain sebagai “liyan” yang patut dicurigai. Kita terjebak dalam prasangka, dan dalam ketakutan yang berlebihan, kita kehilangan kemampuan untuk mendengar suara yang berbeda.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *