oleh

Khutbah Jumat: Tanda-tanda Kehancuran Sebuah Bangsa, Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur

-Mimbar Jumat-139 Dilihat

Ketiga, menurut Ibnul Anbariy, kata amarnaa berarti “Kami jadikan sebagai penguasa” Jadi, ayat tersebut bermakna: “jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami jadikan orang-orang yang hidup mewah di antara mereka sebagai penguasa, lalu mereka berbuat kefasikan…. dan seterusnya.”

Baca Juga: Doa untuk Rumah Tinggal yang Penuh Berkah

Sementara Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan, tidaklah Allah Ta’ala menghancurkan suatu bangsa, kecuali Dia terlebih dahulu mengirim orang-orang untuk memberi peringatan, agar para pemimpin menegakkan keadilan, berbuat ketaatan dan menghentikan segala bentuk kemaksiatan dan kedzaliman.

Namun, jika para penguasa tetap berbuat dzalim, mereka terus-menerus melakukan kedurhakaan dan kerusakan, sementara peringatan tidak dihiraukan, maka saat itulah berlaku ketetapan Allah, yakni kehancuran negeri tersebut.

Dalam ayat lainnya, beberapa kata yang bermakna kehancuran, antara lain: halaka (menghancurkan), fasada (merusak), dan kata dammara (membinasakan). Itu semua bisa terjadi karena ulah perbuatan manusia sendiri.

Baca Juga  Mimbar Jumat : Menjadi Baik Itu Mudah, Yang Berat Itu Menjadi Bermanfaat

Kehancuran terjadi dengan berbagai cara, bisa berupa bencana alam seperti: hujan badai dan banjir bandang, sebagaimana yang ditimpakan pada kaum Nabi Nuh Alaihi salam. Gempa bumi dan likuifaksi seperti yang menimpa kaum Nabi Luth Alaihi salam. Bencana berupa penyakit menular,  pandemi dan lainnya seperti yang terjadi pada kaum Nabi Hud, Shaleh, Musa Alaihimus salam dan nabi-nabi lainnya, atau diserang dan dihancurkan musuh seperti yang terjadi pada Bani Israil dan Babilonia.

Baca Juga: Menjaga Kemabruran Haji

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah Ta’ala

Dalam konteks surah Al-Isra ayat 16 di atas, ada tiga isyarat kehancuran suatu bangsa:

Baca Juga  Khutbah Jumat: Menggapai Pahala Haji Meskipun Belum Berkesempatan ke Tanah Suci

Pertama, penguasa yang angkuh dan sombong, seperti yang pernah dilakukan oleh Fir’aun dan para panglimanya. Penguasa yang sombong tidak mau mendengar nasihat dari siapapun. Siapa yang memberi kritik dan nasihat akan dimusuhi dan dianggap sebagai pengacau negeri.

Penguasa yang angkuh akan diikuti oleh para penegak hukum yang mengabaikan keadilan, dan di sekelilingnya dipenuhi oleh orang-orang yang menjilat demi mendapatkan harta dan jabatan.

Baca Juga: Bukan Gelar H, Tanda Haji Mabrur Sekembali ke Tanah Air

Penguasa yang sombong menganggap dirinya lebih mulia dari rakyatnya, menganggap dirinya lebih pintar dari orang-orang yang dipimpinnya. Mereka merendahkan dan menghinakan siapapun yang mengkritiknya dengan ucapan dan perbuatannya.

Kedua, terlalu cinta dunia, gaya hidup bermewah-mewah serta sifat kikir dan bakhil.

Baca Juga  KHUTBAH JUMAT : Pelajaran Yang Tersirat Dalam Ibadah Haji

Kecintaan terhadap dunia yang berlebihan akan mendorong manusia bergaya hidup mewah, suka dengan kemegahan, hingga membuat mereka memiliki sifat kikir dan bakhil. Mereka enggan menolong sesama, malas berderma, dan hanya mementingkan syahwat dunia dengan terus menumpuk-numpuk harta kekayaannya.

Rasulullah Shallallahi alaihi Wasallam memperingatkan dalam sebuah hadits:

Baca Juga: Realita Negara Zionis Israel Saat Ini

وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ. حَمَلَهُمْ عَلَى أنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ. (رواه مسلم)

“Takutlah kalian semua terhadap sifat kikir, sebab kikir itu menyebabkan rusak binasanya ummat sebelum kamu. Itulah yang menyebabkan mereka sampai mengalirkan darah sesamanya dan menyebabkan mereka menghalalkan apa-apa yang diharamkan pada diri mereka.” (HR. Muslim)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *