oleh

MIMBAR DIANTARA DERU MESIN DAN DEBU AMBISI

-Mimbar Jumat-419 Dilihat

Oleh: M.Guntur Alting

BERDIRI di balik mimbar sebuah masjid di jantung kota ‘metropolitan’ seperti Jakarta adalah pengalaman yang “menggetarkan,” sekaligus menghimpit batin.

Di luar gerbang masjid, Jakarta adalah sebuah “monster” yang tak pernah tidur—suara klakson yang saling bersahutan. Deru mesin Trans-Jakarta, dan langkah kaki ribuan orang yang mengejar tenggat waktu.

Namun, begitu melangkah masuk ke dalam ruang sujud yang sejuk dan hening, ada sebuah kontras tajam yang seketika merayap ke dalam dada.

Perasaan batin saat hendak berdakwah di masjid kota ini sering kali dimulai dengan rasa kerdil.

Di hadapan jamaah yang heterogen—mulai dari pejabat dengan kemeja rapi, pekerja kantoran yang tampak lelah, hingga pengemudi ojek daring yang mencuri waktu untuk bersandar sejenak di pilar masjid—saya merasa memikul beban yang tidak ringan.

–000–

Jakarta adalah kota yang keras; ia sering kali mengikis sisi kemanusiaan pelakunya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *