Oleh : Ustadz Sutrisno Akbar, pengurus Bidang Kaderisasi LTNNU Sidoarjo sekaligus guru MIN 2 Pasuruan.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْد فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيم يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Di siang yang penuh berkah ini, marilah kita tundukkan hati, kita ikat jiwa kita dengan simpul takwa yang kuat. Bukan sekadar takwa di lisan, tapi takwa yang mampu menggetarkan hati saat nama Allah disebut, dan menahan tangan saat hendak berbuat dosa. Takwa adalah bekal terbaik bagi musafir kehidupan yang sedang berjalan menuju kampung halaman keabadian.
Saudaraku yang dicintai Allah SWT, Tema khutbah kita hari ini adalah sebuah renungan tajam bagi nurani kita, yaitu:
“Menjadi Baik itu Mudah, yang Berat itu Jadi Bermanfaat”.
Seringkali kita merasa cukup hanya dengan menjadi orang “baik” (Saleh). Kita shalat tepat waktu, sering berjamaah, kita berpuasa, kita menjauhi maksiat, dan kita merasa aman di dalam “kepompong” kesalehan pribadi kita. Menjadi baik itu memang indah, layaknya sekuntum bunga yang mekar dalam lemari kaca: indah, bersih, cantik, tapi wanginya tidak tercium oleh siapapun, keindahannya terkurung hanya untuk dirinya sendiri. Menjadi baik itu relatif mudah. Cukup dengan menahan diri dari menyakiti orang lain dan memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah, kita sudah disebut orang baik.
Namun, Islam tidak turun ke bumi hanya untuk menciptakan individu-individu yang saleh sendirian. Islam menuntut kita untuk naik kelas, dari sekadar Saleh (baik) menjadi Muslih (yang memperbaiki/bermanfaat). Inilah jalan yang berat itu. Jalan kebermanfaatan. Mengapa berat? Karena jika menjadi Saleh itu ibarat menjadi danau yang tenang, maka menjadi bermanfaat itu ibarat menjadi sungai yang mengalir deras. Sungai itu harus menabrak batu karang, rela menjadi tidak bersih lagi demi menghidupi sawah-sawah yang kering, dan tak henti mengalir meski jalannya berliku.



Komentar