oleh

Mimbar Jumat : Menjadi Baik Itu Mudah, Yang Berat Itu Menjadi Bermanfaat

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits: ​خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ ​ Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah, ​

Hadits ini adalah cambuk bagi jiwa-jiwa yang terlena dalam kenyamanan. Rasulullah tidak berkata “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak shalat sunnahnya” atau “paling lama dzikirnya”. Karena ibadah ritual adalah kewajiban, namun kebermanfaatan adalah bukti kejujuran iman. ​Orang yang bermanfaat adalah orang yang rela “Lelah, Capek, bahkan Sakit “. Ia adalah lilin yang berani habis demi menerangi sekitarnya, meskipun tubuhnya sendiri harus meleleh terbakar api. Ia adalah pohon berbuah yang rela dilempari batu oleh manusia, namun membalasnya dengan menjatuhkan buahnya yang manis. ​

Lihatlah para Nabi, mereka tidak dimusuhi karena mereka “Saleh”. Mereka dimusuhi karena mereka “Muslih” (Reformer). Mereka dimusuhi karena mereka turun tangan, mengubah keadaan, menegakkan keadilan, dan menebar manfaat yang mengganggu kenyamanan para manusia yang dhalim kepada sesama. ​

Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 7: ​إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ​ Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu juga akan Kembali pada dirimu sendiri”. ​

Ayat ini menyiratkan bahwa kebaikan kita akan memantul kembali. Tapi ingatlah, menjadi bermanfaat menuntut pengorbanan ego. Saat kita memilih untuk bermanfaat, mungkin kita akan dikritik saat mencoba memperbaiki sistem. ​Kita mungkin akan kehilangan harta saat bersedekah membantu anak yatim dan dhuafa. ​Kita mungkin akan kehilangan waktu istirahat saat mengurus umat. Itulah mengapa ia berat. Tapi ingatlah, besi yang ditempa api akan menjadi pedang yang tajam, sedangkan besi yang didiamkan hanya akan menjadi rongsokan berkarat.

Mari kita menjadi hamba Allah yang kehadirannya dinanti, dan ketiadaannya ditangisi. Jangan menjadi buih di lautan, yang banyak jumlahnya namun hilang tak berbekas. Jadilah seperti hujan, dimanapun ia jatuh, ia selalu menumbuhkan kehidupan. ​Semoga Allah melembutkan hati kita, bukan hanya untuk menjadi hamba yang saleh di atas sajadah, tetapi menjadi pejuang kebaikan yang bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qasas ayat 77: وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ​ Artinya: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu…” ​

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed