oleh

Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik

-Mimbar Jumat-349 Dilihat

Berkaitan dengan pentingnya upgrade diri, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr, [59]: 18).

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Tahun baru Hijriah dimulai dari peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi titik penting dalam perjalanan dakwah Islam. Kita tahu, Rasulullah dan para sahabat menghadapi penolakan yang sangat berat dari kaum Quraisy. Mereka bahkan berusaha mengganggu, menyakiti, dan merencanakan pembunuhan terhadap Nabi SAW. Dalam kondisi yang sangat sulit itu, Allah memerintahkan Nabi untuk berhijrah dari kota yang menolak kebenaran menuju kota yang menerima Islam dengan baik, yaitu Madinah. Karena besarnya makna peristiwa ini, pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a., peristiwa hijrah dijadikan awal penanggalan dalam kalender Islam.

Dalam Tarikhul Khulafa karya Imam as-Suyuthi, disebutkan pendapat Imam al-Askari: قَالَ الْعَسْكَرِيُّ: هُوَ أَوَّلُ مَنْ سُمِّيَ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ وَأَوَّلُ مَنْ كَتَبَ التَّارِيْخَ مِنَ الْهِجْرَةِ Artinya: “Al-Askari berkata: Umar adalah orang pertama yang diberi gelar Amirul Mukminin, dan orang pertama yang menetapkan penanggalan berdasarkan peristiwa Hijrah.”

Hijrah Nabi Muhammad bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga membawa makna perubahan besar dalam kehidupan. Dari suasana penuh kebencian, iri, dan permusuhan, menuju masyarakat yang damai, saling menerima, dan hidup dalam persaudaraan. Dengan kata lain, hijrah adalah simbol perubahan, sebuah langkah menuju kehidupan yang lebih baik. Karena itu, tahun baru Hijriah tidak cukup hanya dimaknai sebagai pergantian angka dalam kalender. Lebih dari itu, ia adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika tahun lalu kita masih sering lalai dalam shalat, maka di tahun ini mari kita perbaiki dengan menjaga shalat tepat waktu dan lebih khusyuk. Jika lisan kita masih sering menyakiti orang lain, maka mari kita ubah menjadi ucapan yang lembut, menenangkan, dan membawa kebaikan. Dan jika kita masih berat dalam bersedekah, maka mari kita latih diri menjadi pribadi yang lebih dermawan dan ringan dalam membantu sesama. Inilah makna hijrah yang sebenarnya: berpindah dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik, dari keburukan menuju kebaikan, dan dari kelalaian menuju ketakwaan.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Senantiasa berusaha memperbaiki diri dan menjadi lebih baik dari hari ke hari menunjukkan bahwa kita termasuk orang yang beruntung. Sebaliknya, jika tidak ada usaha untuk memperbaiki diri, bahkan hari ini justru lebih buruk dari kemarin, maka itu tanda kerugian bagi diri kita.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *