Menjaga Kesetiaan pada Asal Usul
Filsafat setia pada kebenaran yang ada di otak. Spiritualitas setia pada kejujuran yang bertahta di hati. Kesetiaan inilah yang menjaga manusia agar tidak tergelincir ke jurang nista dan dusta—jurang pemikiran kosong dan perasaan palsu.
Manusia, sebagai makhluk yang diberi akal dan rasa, memiliki kebebasan memilih: tamasya filsafat, wisata spiritual, atau keduanya secara bergilir. Yang penting, jangan tamak dan rakus menjalaninya bersamaan tanpa kesiapan. Karena perjalanan menuju puncak itu menuntut disiplin, kesunyian, dan kesetiaan pada asal usul habitat kemanusiaan kita.
Di tengah dunia yang bising dan penuh perseteruan, filsafat dan spiritualitas adalah dua sahabat yang mesra. Mereka saling mendukung agar kita tidak kehilangan arah, agar akal tetap jernih dan hati tetap hidup.
Danau Sunter, 10 Mei 2026










Komentar