Generasi baru itu datang dengan wajah modern, membawa bahasa startup dan digitalisasi. Tapi perilakunya tetap feodal dan primitif. Mereka ingin membangun dinasti baru, bukan dengan darah biru, tapi dengan jaringan rente dan dana politik. Dinasti ini dipelihara seperti peredaran narkoba: ilegal, merusak, tapi terus hidup karena ada pasar dan pelindung.
Lahan korupsi memang sudah habis dikapling oleh pejabat yang lupa daratan. Udara politik menjadi pengap, sumpek, seperti negeri fiksi Konoha yang hanya hidup dalam cerita. Publik lelah, tapi tidak punya saluran efektif untuk memutus rantai rente ini.
Maka, jika kita ingin menyelamatkan demokrasi, langkah pertama adalah membongkar budaya rente ini secara terbuka. Transparansi anggaran, pembatasan rangkap jabatan, penguatan partai politik sebagai lembaga kaderisasi, dan penegakan hukum tanpa pandang bulu adalah prasyarat dasar. Tanpa itu, pemilu hanya menjadi pergantian pemain dalam permainan yang sama.
Politik seharusnya menjadi ruang pengabdian, bukan arena dagang jasa dan ancaman. Jika balas jasa dan sandera menyandera terus dipelihara, maka yang kita wariskan pada generasi mendatang bukan negara yang merdeka, melainkan negara yang disandera oleh kepentingannya sendiri.***










Komentar