Cuaca ekstrim bisa saja terjadi sebaliknya seperti di belahan dunia yang lain dengan suhu dingin yang jauh berada dibawah takaran normal. Jika penakar suhu udara dapat menggunakan air condition (AC) yang normal, maka suhu di bawah 18 derajat celcius dapat menimbulkan masalah yang serius. Apalagi terus menurun mendekati titik nol atau bahkan berada pada angka minus yang bisa dengan cepat membuat semua benda cair menjadi beku, termasuk tubuh manusia yang mempunyai daya tahan sangat terbatas.
Memetik hikmat dari kondisi cuaca ekstrim yang berada di luar akal waras ini, manusia pun masih sempat membayang suhu panas bumi yang meningkat dan bila terus bertahan hingga beberapa waktu lamanya, bukan mustahil di Indonesia akan mengalami bencana yang sangat sulit untuk diperkirakan. Peristiwa kebakaran yang terjadi di berbagai tempat agaknya menjadi bagian dari pengaruh suhu udara yang panas. Jika kondisi panas bumi terus berlanjut sampai musim kemarau, bukan mustahil permukaan air laut akan naik dan menenggelamkan sejumlah daerah yang biasa menjadi pelanggan rob — banjir bandang dan sejenisnya — akibat mencairnya es di kutub Utara dan selatan. Artinya, panas ekstrim yang berkepanjangan sangat mungkin menimbulkan bencana global — tidak hanya sebatas nasional, apalagi lokal — karena mencairnya gunung es di kutub dunia tersebut akan berdampak global.
Agaknya, panas politik di dalam negeri kita memang sangat tentang terlindas oleh panas dunia akibat perang, seperti yang telah ditandai dengan kebaikan harga bahan bakar gas dan minyak. Apalagi kemudian panas akibat naiknya suhu bumi yang justru menjelang memasuki musim kemarau di Indonesia. Karena pemerintah cq Kementerian Lingkungan Hidup serta instansi terkait lainnya perlu menjalin kerjasama dengan masyarakat luas, untuk mengantisipasi ancaman panas bumi yang semakin tidak tertahan serta dapat mengancam ketahanan pangan kembali menjadi rentan.








Komentar