Kegiatan ini juga menjadi bentuk kritik halus terhadap ketimpangan struktural yang masih membelenggu wilayah-wilayah pesisir dan kepulauan. AMPP Togammoloka secara terbuka mengajak pemerintah daerah untuk lebih serius memperhatikan daerah-daerah seperti Loloda Kepulauan, yang selama ini seolah berada di luar radar pembangunan.
Mereka tidak hanya hadir sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga sebagai penggerak wacana — bahwa pendidikan harus menjadi bagian dari pembangunan yang adil dan merata. Ini bukan sekadar aksi sosial, tapi juga pernyataan politik: bahwa setiap anak Indonesia, di manapun mereka berada, berhak atas pendidikan yang layak.
Pendidikan sebagai Ruang Transformasi Sosial
Refleksi dari Pdt. Sefnat Hontong, seorang tokoh yang turut mengamati gerakan ini, menegaskan bahwa apa yang dilakukan AMPP Togammoloka adalah bentuk nyata dari filosofi pemberdayaan: membangun dari kepala (pengetahuan), hati (kesadaran), dan kebersamaan (solidaritas).
“Pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tapi juga tentang membangkitkan rasa percaya diri, kesadaran kritis, dan motivasi kolektif. Di tangan pemuda, pendidikan menjadi ruang transformasi sosial,” ungkap Pdt. Sefnat.
Pemuda sebagai Agen Perubahan








Komentar