Jika kedepan Prabowo bisa mengorkestrasi para teknokrat di bawahnya untuk menunjukkan performence kinerja yang lebih bagus dan meyakinkan serta memuaskan rakyat, maka ekspektasi rakyat kepada Prabowo akan naik kembali. Otomatis: elktabiltas Prabowo akan naik juga.
Misal, kedepan Prabowo berhasil membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 7 persen. Rupiah menguat dan harga US $ 1 menjadi Rp.10.000. Pelayanan publik seperti MBG dan rumah bersubsidi berhasil dan memuaskan bagi rakyat. Pungli di birokrasi lenyap dan korupsi jauh berkurang. Penegakan hukum melalui KPK, Kejaksaan dan Polri beroperasi efektif dalam pemberantasan korupsi. Ekspor dan impor ditertibkan, dan yang ilegal berhasil diberantas. Dominasi oligarki dalam menghegemoni komoditas dan pasar bisnis bisa ditekan. Income perkapita penduduk Indonesia naik di atas US $ 7.000 pertahun.
Jika ini semua bisa direalisasikan Prabowo, maka ekspektasi rakyat kepada Prabowo akan melonjak tinggi. Pilpres 2029, tak ada lawan buat Prabowo. Duduk manis tanpa kampanye, Prabowo akan menang. Tak perlu pusing mencari pasangan. Sandal jepit pun jadi.
Tapi, jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka rakyat akan mencari alternatif. Saat ini, alternatif yang muncul adalah Anies Baswedan.
Nama Gibran, AHY dan Ahok juga muncul dalam survei Median. Tapi masih jauh untuk bisa berkompetisi dengan Prabowo. Tapi, satu hal yang harus dipahami bahwa politik itu dinamis. Semua berkemungkinan untuk berubah.
Jadi, kembali lagi pada istilah “Negatif Correlation” atau “korelasi negatif”. Istilah ini dipakai untuk sebuah hubungan matematika politik. Bukan hubungan sosial-moral.













Komentar