oleh

REGIME CHANGE DI IRAN DAN TANTANGANNYA

Smith Alhadar : Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)

​Demonstrasi mematikan di Iran berangsur tenang. Tapi bukan lantaran rezim mullah telah merespons tuntutan rakyat, melainkan ketakutan berlanjutnya tindakan represif yang telah menewaskan ribuan. Retorika antirezim Iran dari Presiden AS Donald Trump pun berubah lembut. Trump menyatakan Teheran telah memberi jaminan tidak lagi membunuh demonstran. Bahasa kemanusiaan Trump ini sesungguhnya menyimpang agenda jahat. Toh, ia tak mengenyampingkan serangan militer demi regime change. Trump memang figur unpredictable. Sebelum AS melancarkan operasi militer di Venezuela, Presiden Nicolas Maduro menyatakan ia baru saja berbicara melalui telpon dengan Trump dalam suasana bersahabat.

Maduro menawarkan kerja sama untuk isu narkoba — yang dijadikan preteks fabrikasi Trump untuk menjustifikasi regime change di sana — dan membuka pintu bagi masuknya perusahaan minyak AS ke negaranya. Beberapa jam kemudian, pasukan khusus AS menyerbu Caracas disertai penculikan terhadap Madura dan Ibu Negara Cilia Flores. Ini aksi arogan, ilegal, dan kurang ajar, yang memicu kecaman komunitas internasional. Sebelumnya, 20 Juni, Trump menyatakan akan menyelesaikan isu nuklir Iran secara diplomatik dan pembicaraan delegasi Iran dan AS di Oman mengalami kemajuan pesat.

Baca Juga  RUU Kepulauan dan Potensi Disintegrasi di Negara Kepulauan

Dua hari kemudian, AS mengerahkan pesawat B-2 Siluman penghancur bunker untuk membantu Israel menghancurkan situs-situs nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan, menewaskan 1.100 orang, termasuk puluhan petinggi militer dan pakar nuklir Iran. Obsesi Trump meruntuhkan Republik Islam Iran sudah dimulai sejak periode pertama pemerintahannya (2017-2021). Iran dan Venezuela bersahabat dekat. Keduanya anggota OPEC. Bila cadangan minyak Venezuela berada di peringkat pertama dunia, Iran berada di peringkat ketiga setelah Arab Saudi.

Dus, sama sebagaimana Venezuela, tujuan Trump mendongkel rezim mullah adalah mengontrol minyaknya, selain untuk menjaga supremasi militer Israel yang ditantang Iran. Pada akhir Desember, PM Israel Benjamin Netanyahu bertemu Trump di Mar-a-Lago, untuk membicarakan, di antaranya, kemungkinan AS-Israel menyerang Iran. Melihat determinasi Trump mengubah rezim Iran mengkhawatirkan negara-negara Arab Teluk. Pecah perang Iran-AS akan berdampak signifikan terhadap Teluk. Harga minyak dunia akan melejit, reputasi monarki-monarki di sana sebagai surga bisnis dunia akan runtuh, dan teritori mereka akan jadi target Iran. Kendati militernya sudah melemah pasca serangan besar-besaran Israel-AS dalam perang 12 hari pada Juni, Iran masih memilki arsenal pamungkas dan proksi-proksinya di kawasan siap membantunya. Karena itu, Arab Saudi, Oman, dan Qatar, melakukan diplomasi di balik layar untuk membujuk Trump mendeeskalasi situasi.
Demonstrasi Iran

Baca Juga  Diplomasi Spiritual Untuk Kemaslahatan Seluruh Umat Manusia di Bumi

Sehari sebelum Netanyahu bertemu Trump, demonstrasi pecah di Iran akibat jatuhnya nilai mata uang rial dan meningkatnya biaya hidup rakyat. Dengan cepat isu ekonomi berubah menjadi isu politik. Israel dan AS tidak menyembunyikan keterlibatan agen-agen mereka dalam mengobarkan demonstrasi yang melanda berbagai kota Iran. Ini strategi menang cepat Trump bagi regime change tanpa perlu tentara AS menduduki negara target. Maka, sebagaimana Venezuela, Trump pun terlebih dahulu menjatuhkan sanksi terhadap Iran untuk melemahkannya guna memudahkan pengambilalihan.

Baca Juga  PELUIT YANG MENGIRIS HARAPAN DI GELORA BANDUNG LAUTAN API

Demonstrasi besar di Iran sudah beberapa kali terjadi sejak Republik Islam berdiri pada 1979. Walakin, demonstrasi kali ini lebih radikal karena kesulitan ekonomi berakumulasi dengan maraknya korupsi dan salah urus pemerintahan. Embargo ekonomi atas Iran telah dilakukan AS sejak awal berdirinya Republik Islam. Pada 2018, Trump mundur secara sepihak disertai sanksi menyeluruh dari kesepakatan multilateral terkait program nuklir Iran. Kesepakatan itu – Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) – mengharuskan Iran membatasi program nuklirnya yang diawasi ketat badan pengawas nuklir PBB (IAEA) dengan imbalan Iran diizinkan menjual minyaknya ke pasar global.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *