Kedua, strategi perang singkat tanpa tentara AS menduduki Iran mustahil bisa diwujudkan karena pusat-pusat kekuasaan di Iran bertebaran di berbagai lembaga, seperti Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), militer konvensional, Basij (sukarelawan), parlemen, Lembaga Keamanan Nasional, Dewan Ahli yang bertugas memilih dan memberhentikan pemimpin tertinggi, serta Lembaga Velayat-e Faqih pimpinan Khamenei. Dalam pemahaman Syiah, Velayat-e Faqeh adalah representasi Imam Mahdi yang adalah penerus risalah Nabi Muhammad.
Ketiga, tidak ada figur pemersatu di Iran. Oposisi Iran yang berjuang dari luar negeri, seperti faksi royalis pimpinan Reza Pahlevi, putera Shah Mohammad Reza Pahlevi yang dijatuhkan revolusi Iran dan faksi Mujahidin-e Khalaq (MEK) di bawah Maryam Rajavi, tidak populer di Iran karena bersekutu dengan Israel dan AS dan rekam jejak buruk di masa lalu. Rakyat Iran belum lupa pada Dinasti Pahlevi yang korup dan brutal. Sementara MEK, kelompok Islam Marxis, melancarkan pemboman di Iran pasca kemenangan revolusi yang menewaskan para eksponen revolusi.
Keempat, China, Rusia, dan Turki juga terang-terangan menentang regime change. Selama sepekan (10-17 Januari), China, Rusia, Iran, dan anggota BRICS+ lain melakukan latihan militer di perairan Cape Town, Afrika Selatan, titik temu Samudera Hindia dan Atlantik guna mengamankan aktivitas ekonomi maritim di kawasan. Latihan bertajuk “Will of Peace 2026” harus dibaca sebagai pesan Beijing dan Moskow bahwa mereka menolak aksi tak bertanggung jawab yang menjungkirbalikkan tatanan internasional berbasis hukum.
Dipicu ambisi Trump mengontrol minyak dan mineral strategis dunia guna melemahkan Rusia dan China, avonturisme militer Trump harus dihentikan. Terlebih, pengendalian Trump atas Venezuela membuat ketergantungan China pada minyak Iran meningkat. China adalah importir utama minyak Venezuela. Terkait Iran, Rusia melihatnya sebagai buffer zone Asia Tengah, lingkungan pengaruh (sphere of influence) Rusia. Dengan Venezuela, Moskow punya pakta pertahanan dengan Caracas. Di sisi lain, tekad Trump merampas Greenland yang kaya minyak milik Denmark mengancam stabilitas Eropa.
Kelima, tidak mudah mengatur negara lain yang dilakukan secara koersif. Penculikan Maduro tidak mengubah struktur kekuasaan Venezuela. Pengganti Maduro, Presiden Interim Delcy Rodriguez menolak intervensi atas kedaulatan politik negaranya. Dalam konteks ini, mimpi Trump menghadirkan rezim baru di Iran nyaris tidak mungkin. Regime change oleh AS di Afghanistan, Irak, dan Libya, hanya melahirkan rezim anti-AS dan perang saudara berkepanjangan. Resistensi Iran, negara dengan 90 juta populasi, bakal jauh lebih kuat dari ketiga negara itu.
Alhasil, perang skala penuh dengan Iran akan sangat menghancurkan tanpa menjanjikan kemenangan bagi AS. Memang realisme politik Trump untuk “Make America Great Again” menggambarkan kemerosotan AS. Tapi Trump tidak perlu menjadi Hitler baru. Jalan terbaik adalah negosiasi dengan Iran. Teheran bersedia kembali ke JCPOA, meskipun menolak menanggalkan haknya membuat rudal sebagai deterrence bagi kedaulatan teritorinya. Dalam konteks global, dunia harus bersatu melawan preseden yang diciptakan Trump.
Tangsel, 18 Januari 2026








Komentar