Trump menganggap kesepakatan tahun 2015 terlalu menguntungkan Iran karena tidak mencakup larangan Teheran mengembangkan rudal balistik dan menghentikan intervensinya di Irak, Lebanon, Yaman, dan menopang rezim Bashar al-Assad di Suriah. Iran juga mendukung perjuangan bersenjata Hamas dan Jihad Islam. Dengan mencabut boikot atas penjualan minyaknya, Teheran lebih leluasa menjalankan politik ekspansifnya yang mengancam keamanan regional dan kepentingan AS. Segera setelah Trump mundur dari JCPOA, demonstrasi di Iran meledak lagi.
Tapi saat itu Iran masih bisa berdagang dengan China, India, Turki, Irak, dan UEA.
Beijing malah membeli lebih dari 80 persen produksi minyak Iran. Di era pemerintahan Presiden AS Joe Biden, JCPOA dirundingkan kembali. Namun, tidak membuahkan hasil karena Biden menambah sanksi guna mengungkit bargaining chip AS. Sebaliknya, Iran meningkatkan stok uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen sebagai political leverage-nya. Pecahnya perang Hamas-Israel, 7 Oktober 2023, mengeskalasi ketegangan Iran-Israel. Terutama lantaran proksi-proksi Iran ikut membantu Hamas.
Dalam perang dengan Hezbollah dan Hamas, Israel berhasil mereduksi kapasitas militer keduanya. Lalu, pada 8 Desember 2024, rezim Bashar al-Assad runtuh, hampir bersamaan dengan kembalinya Trump ke Gedung Putih. Trump memperbesar impunitas dan kekuatan militer Israel menghadapi tekanan internasional dan regional. Setelah perang Juni, ekonomi Iran kian babak belur, diperparah oleh pemberlakuan kembali sanksi PBB atas inisiatif Inggris, Perancis, dan Jerman, terkait pembatasan kerja sama Iran dengan IAEA.
Tidak Realistis
Di puncak demonstrasi Iran, Trump menjatuhkan sanksi baru berupa tarif 25 persen bagi negara manapun yang masih berbisnis dengan Iran. Ini mengganggu gencatan senjata perang dagang AS-China dan ekonomi Turki. Terlebih, sanksi-sanksi AS makin menyengsarakan rakyat Iran dan menciptakan ketidakpastian masa depan mereka. Persis sama dengan kondisi sosial-politik Venezuela. Kebijakan imperliastik AS pasca Perang Dunia Ke-2 memang lebih banyak menciptakan instabilitas, kemiskinan, dan kematian jutaan orang di banyak negara. Di
Palestina, AS melindungi Israel dari Tindakan genosidanya. Bagaimanapun, kebijakan imperialistis Trum di Iran harus mempertimbangkan hal berikut :
Pertama, perang skala besar dengan Iran merupakan gagasan ceroboh. Tidak seperti Venezuela, operasi militer untuk menangkap atau membunuh pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, memiliki sensitivitas keagamaan tinggi. Juga sulit karena jarak angkatan perang AS dari ibu kota Teheran lebih dari 1.000 km. Hambatan itu bertambah karena negara-negara Arab, yang teritori dan ruang udaranya dibutuhkan AS, tidak mendukung.











Komentar